Lewati ke konten utama
← Kembali ke Jurnal Tembakau
Petani & Ekonomi

Hari Ini Cabai, Tahun Depan Tembakau Lagi

Di sentra-sentra tembakau Jawa Tengah dan Jawa Timur, petani bongkar pasang tanaman mengikuti harga dan cuaca yang naik turun, sementara lahan tadah hujan serta keahlian mereka tetap paling pas untuk satu komoditas itu-itu saja.

6 menit baca

No. 038 · Dipublikasikan 28 Sep 2026

Ladang yang menyusut, pabrik yang mengerem

Data Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung yang diungkap pertengahan 2026 menunjukkan luas tanam tembakau di kabupaten itu turun dari sekitar 18.600 hektare pada 2021 menjadi 13.133 hektare pada 2025 -- berkurang hampir 5.000 hektare dalam empat tahun, sementara luas tanam cabai pada periode yang sama justru melonjak dari sekitar 4.000 hektare menjadi 12.000 hektare. DKPPP menegaskan pergeseran ini bukan karena kebijakan yang memaksa petani meninggalkan tembakau, melainkan karena harga cabai yang sempat tinggi dan bertahan lama membuat sebagian lahan bergeser ke hortikultura, dengan pola tanam campuran -- tembakau, cabai, kacang merah, dan sayuran bergiliran dalam satu musim.

Tekanan pada petani tidak selalu datang dari pilihan bebas mereka sendiri. Pertengahan 2025, harga tembakau rajangan grade D dan E di Temanggung jatuh dari kisaran Rp100.000-120.000 per kilogram menjadi Rp80.000-100.000 per kilogram setelah sejumlah pabrik rokok besar mengurangi serapan. Kepala Desa Purbosari, Pujiyono, menyebut petani di wilayahnya mulai mencari tanaman alternatif lewat sistem tumpang sari -- menanam cabai dan sayuran di sela tembakau, bukan menggantinya sepenuhnya, supaya tetap ada penghasilan ketika harga daun kering sedang jatuh.

Magelang: tujuh dari sepuluh petani sudah angkat kaki

Penyusutan yang lebih tajam terjadi di Kabupaten Magelang. Studi Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang yang dirilis Juni 2026, berbasis data 2022 di 20 desa, mencatat dari 13.713 petani tembakau yang terdata, 9.821 orang atau sekitar 71 persen sudah beralih menanam komoditas nontembakau. Luas lahan tembakau di kabupaten itu ikut anjlok, dari sekitar 6.000 hektare pada 2021 menjadi 2.500-3.000 hektare pada 2025 -- turun hampir separuh.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Romza Ernawan, menyebut penurunan itu dipengaruhi beberapa faktor sekaligus: perubahan iklim yang membuat curah hujan sulit diprediksi, harga tembakau yang tidak stabil, dan sistem pemasaran yang nyaris hanya bergantung pada satu pembeli. Petani di Kecamatan Windusari, misalnya, sudah beralih ke ubi jalar, kopi, bawang merah, bawang putih, dan cabai -- sebagian bahkan memulai diversifikasi itu sejak 2013, jauh sebelum tren ini ramai dibicarakan.

Bukan cuma harga -- cuaca pun bisa memutus tembakau

Penyusutan lahan tidak selalu berarti petani menilai tembakau sudah tidak menguntungkan. Di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan mencatat luas tanam tembakau turun dari sekitar 500 hektare pada 2025 menjadi hanya 250-300 hektare pada musim tanam 2026. Subkoordinator Perkebunan DTPHP Magetan, Bambang Utomo, menjelaskan penyebabnya adalah curah hujan yang masih tinggi pada awal musim tanam April-Mei 2026 sehingga banyak bibit tembakau gagal tumbuh -- bukan soal harga.

Petani yang gagal menanam tembakau di lahannya beralih sementara ke jagung dan kentang di kawasan dataran tinggi. Padahal harga daun tembakau basah di Magetan tetap di atas Rp10.000 per kilogram dan tembakau kering kualitas baik bisa mencapai Rp500.000-700.000 per bal -- angka yang menunjukkan tembakau sebetulnya masih menguntungkan, hanya saja alam yang untuk sementara memaksa petani berpindah tanaman.

Hari ini cabai, tahun depan tembakau lagi

Arah perpindahan itu juga bisa berbalik sepenuhnya. Di Desa Bodag, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, puluhan petani yang sebelumnya menanam jagung dan porang justru beralih ke tembakau begitu harga umbi porang ambruk dari kisaran Rp10.000-12.000 menjadi hanya Rp2.000-3.000 per kilogram. Ketua Kelompok Tani Gotong Royong, Ahmat Dilam, mengatakan pada musim kemarau 2023 kelompoknya mulai menanam tembakau di lahan terasering seluas 2 hektare sebagai tahap awal, karena pangsa pasar tembakau dinilai lebih jelas dibanding porang yang harganya naik turun tajam.

Saat itu harga rajangan tembakau kualitas paling rendah saja sudah Rp15.000-18.000 per kilogram, kualitas standar Rp25.000-30.000, dan kualitas terbaik Rp40.000-45.000 per kilogram -- jauh lebih stabil dibanding porang yang anjlok tiba-tiba. Pola inilah yang membuat data luas tanam tembakau dari tahun ke tahun tidak pernah bergerak searah di semua daerah: satu kabupaten menyusut karena petaninya berpindah ke komoditas lain, kabupaten lain justru bertambah karena petani komoditas lain berpindah masuk ke tembakau.

Kenapa pindah tanaman tidak semudah membalik tangan

Tembakau umumnya ditanam di lahan tadah hujan atau tegalan kering tanpa jaringan irigasi teknis, karena kebutuhan airnya jauh lebih sedikit dibanding tanaman pangan seperti padi. Ketika petani mencoba beralih ke tanaman yang butuh pasokan air lebih stabil dan terjadwal seperti cabai atau sayuran dataran tinggi, infrastruktur pengairan yang tersedia di lahan bekas tembakau belum tentu memadai. Keahlian mengolah tembakau -- mulai dari merajang, memeram, sampai menjemur -- juga sudah diwariskan turun-temurun dan sangat spesifik, sehingga belajar budi daya komoditas baru sekaligus mencari pasarnya tidak bisa instan.

Sejumlah pemerintah daerah mulai menopang proses ini lewat Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau. Di Lumajang misalnya, alokasi DBHCHT 2025 dipakai untuk membantu 20 petani Kelompok Tani Rukun Makmur di Desa Wotgalih beralih sebagian ke semangka, lengkap dengan bibit dan pupuk, sebagai bentuk diversifikasi usaha tani sekaligus mitigasi risiko gagal panen tembakau. Tapi skala bantuan semacam itu masih jauh lebih kecil dibanding jumlah petani tembakau yang harus memutuskan sendiri, tiap musim, tanaman apa yang akan mereka pertaruhkan di lahan yang sama.