Kemasan Polos Rokok Resmi Digodok, Petani dan Buruh Tembakau Ikut Waswas
Kementerian Kesehatan menargetkan aturan warna kemasan rokok yang diseragamkan terbit akhir Juli 2026. Kementerian Perindustrian dan DPR memperingatkan potensi kerugian negara puluhan triliun rupiah dan gelombang PHK di sepanjang rantai industri tembakau -- dari pabrik sampai ladang petani.
Artikel Lainnya
Menampilkan 9 dari 9 artikel
Sejarah Tembakau Indonesia: dari Kapal Eropa ke Bara Kretek
Dari daun asing yang dibawa pedagang Eropa, tembakau tumbuh menjadi tanaman wajib era kolonial, primadona ekspor dari Deli dan Jember, hingga akar industri kretek yang kini identik dengan Indonesia. Begini jejak empat abad perjalanannya.
"Tanaman Wali" yang Menjerat Petaninya
Di Temanggung, tembakau bukan sekadar komoditas -- ia disebut "tanaman wali" yang dipercaya membawa berkah sejak Ki Ageng Makukuhan menyebarkan Islam lewat jalur pertanian. Tapi di balik gelar sakral itu, banyak petaninya justru terikat sistem pinjaman berbunga 50 persen yang membelit mereka musim demi musim.
Cerutu Jember: "emas hijau" yang disebut terbaik kedua di dunia setelah Kuba, tapi asing di negeri sendiri
Dari ladang-ladang di Jember, Jawa Timur, lahir tembakau pembungkus cerutu yang oleh para pencicip dunia disebut terbaik kedua setelah Kuba -- pernah dilelang hingga ke Bremen, Jerman, namun sampai hari ini lebih dikenal turis mancanegara ketimbang kebanyakan orang Indonesia sendiri.
Aan Wijanarko dan srintil: anugerah tembakau termahal yang tumbuh di lereng Gunung Sumbing
Di lereng Gunung Sumbing, srintil dianggap anugerah yang tak bisa dipaksa tumbuh — hanya lahir dari sedikit lahan dan digulung tangan petani di tengah dinginnya malam. Namun harganya yang bisa menyentuh Rp1 juta per kilogram tetap naik-turun mengikuti kebijakan cukai yang jauh dari kendali mereka.
Tembakau Deli: kisah emas hijau yang mengangkat nama Sumatra
Satu lembar daun dari tanah Deli pernah membuat Eropa menoleh ke Sumatra Timur. Kisah Jacob Nienhuys dan kejayaan tembakau Deli sebagai pembungkus cerutu termewah dunia — dan bagaimana warisan itu masih hidup hari ini.
Tingwe: dari kalangan jelata ke tradisi yang digemari lagi
Sebelum pabrik rokok besar berdiri, masyarakat Nusantara sudah lebih dulu akrab dengan tradisi melinting sendiri. Dari klobot jagung hingga kertas papir, tingwe bertahan melewati satu abad dan kini menemukan penggemar baru di kalangan urban.
Sumarno dan perjuangan petani lereng Prau demi harga yang layak
Di lereng Gunung Prau, Sumarno dan petani lain telah mengikuti setiap standar yang diminta pabrikan — dari varietas benih hingga pola tanam. Yang mereka minta hanya satu: dibeli dengan harga yang sepadan dengan kerja keras satu musim penuh.
Dari racikan obat Haji Jamhari ke klobot: awal mula rokok linting Nusantara
Konon bermula dari niat sederhana: meredakan sakit dada. Racikan cengkeh dan tembakau milik Haji Jamhari di Kudus, akhir abad ke-19, tanpa disangka menjadi cikal bakal budaya rokok linting khas Nusantara.
Kearifan yang bertahan: bagaimana komunitas tingwe menjaga tradisi melinting
Bagi sebagian orang, melinting bukan sekadar kebiasaan, melainkan keterampilan yang diwariskan dan dirayakan bersama. Berkenalan dengan komunitas-komunitas yang menjadikan meracik tembakau sebagai ajang kumpul dan ekspresi kreativitas.