Berawal dari niat mengobati, bukan menikmati
Tembakau sendiri sudah dikenal di Nusantara sejak sekitar abad ke-17, namun salah satu babak paling penting dalam sejarah rokok linting lokal justru lahir bukan dari keinginan bersenang-senang, melainkan dari usaha mengobati sakit dada. Menurut catatan yang dijaga oleh Museum Kretek di Kudus, seorang bernama Haji Jamhari mencoba mengoleskan minyak cengkeh ke dadanya yang sakit. Ternyata, rasa sakit itu mereda.
Dari eksperimen kecil itu, ia melangkah lebih jauh: mengunyah cengkeh, lalu mencampurkannya dengan tembakau yang dirajang, dan menghisap asap dari racikan tersebut yang dilinting dengan klobot atau kulit jagung. Peristiwa yang diperkirakan terjadi sekitar akhir tahun 1880-an hingga 1890-an ini kelak dikenang sebagai titik awal budaya kretek.
Suara "kretek" yang memberi nama
Nama "kretek" sendiri konon berasal dari bunyi renyah yang dihasilkan saat campuran tembakau dan cengkeh dibakar — efek dari kandungan eugenol pada cengkeh yang bereaksi dengan panas. Bunyi khas inilah yang akhirnya melekat menjadi nama bagi seluruh kategori rokok berbahan campuran ini.
Racikan yang semula personal itu perlahan menyebar dari mulut ke mulut di Kudus, hingga sekitar tahun 1921 mulai berkembang menjadi usaha yang dikelola secara lebih terorganisir oleh pelaku usaha lokal, menandai lahirnya industri kretek yang lebih besar dari sekadar racikan rumahan.
Warisan yang terus dilinting
Apa yang bermula dari niat sederhana seorang Haji Jamhari untuk meredakan sakit, pada akhirnya membentuk salah satu identitas budaya paling khas dari Nusantara — cara meracik dan melinting tembakau dengan cengkeh yang kini dikenal luas hingga ke berbagai penjuru negeri, dan masih terus dijaga oleh generasi-generasi yang mencintai proses melinting sendiri.