Dari Amerika, Singgah Dulu di Sirih sebelum Dihisap
Tanaman tembakau, Nicotiana tabacum, sebenarnya bukan asli Nusantara -- ia berasal dari benua Amerika dan baru sampai ke kepulauan ini lewat jalur pelayaran dagang bangsa Eropa. Menurut catatan Lembaga Tembakau Jember, tembakau mulai dikenal di Nusantara sekitar awal abad ke-17, dibawa pedagang Portugis dan Spanyol yang kala itu tengah memperebutkan jalur rempah di Maluku -- meski sebagian catatan lain menyebut kontak yang lebih awal lewat pelayaran Spanyol ke kawasan yang sama pada 1521-1529.
Sebelum menjadi kebiasaan menghisap seperti sekarang, tembakau lebih dulu masuk ke keseharian lewat cara yang berbeda: dicampurkan ke dalam ramuan menyirih atau nginang, bersama kapur, gambir, dan pinang yang sudah lama dikunyah masyarakat Nusantara. Baru belakangan, seiring makin luasnya penanaman, kebiasaan menghisap dan melinting tembakau ikut berkembang dan menyebar dari satu daerah ke daerah lain.
Diwajibkan Tanam demi Kas Kolonial
Nilai jualnya yang tinggi di pasar Eropa membuat tembakau tidak dibiarkan tumbuh begitu saja oleh pemerintah kolonial. Sekitar tahun 1830, tembakau diwajibkan sebagai salah satu tanaman dalam sistem tanam paksa alias cultuurstelsel, dengan kawasan Kedu -- yang kini meliputi Temanggung dan sekitarnya -- menjadi salah satu sentra penanaman yang diawasi ketat pemerintah kolonial.
Sejak 1858, tembakau sudah tercatat sebagai salah satu sumber pemasukan kas kolonial. Beberapa dekade kemudian, pemasukan itu diformalkan lewat serangkaian aturan cukai -- di antaranya Staatsblad Nomor 517 dan 560 Tahun 1932, lalu Staatsblad Nomor 234 Tahun 1949 tentang "TabaksaccijnsOrdonnantie" -- cikal bakal sistem cukai hasil tembakau yang, dengan berbagai perubahan, masih menjadi salah satu penopang penerimaan negara hingga sekarang.
Deli dan Jember: Dua Nama yang Mengangkat Tembakau Indonesia ke Pasar Dunia
Tahun 1859, pengusaha asal Skotlandia bernama George Birnie mendirikan perusahaan perkebunan di Jember, awalnya untuk kopi dan kakao sebelum akhirnya berfokus pada tembakau. Ia menemukan bahwa tanah vulkanik di kawasan itu cocok untuk menghasilkan varietas Besuki Na-Oogst -- tembakau tipis dan lentur yang jadi incaran pabrik cerutu Eropa. Perkebunan itu memicu migrasi besar-besaran dari Madura dan Jawa yang kelak melahirkan budaya khas "Pandhalungan", dan membuat Birnie dikenang sebagai salah satu "bapak pendiri" Jember.
Empat tahun berselang, tahun 1863, pedagang Belanda Jacob Nienhuys tiba di Labuhan Deli, Sumatra Utara, dan mendirikan perkebunan tembakau yang hasil panen pertamanya dikirim ke Belanda pada 1864. Dari situ lahir Deli Maatschappij, perusahaan yang membesarkan nama Tembakau Deli sebagai bahan pembungkus cerutu premium di pasar Eropa. Catatan National Geographic Indonesia menyebut total penjualan tembakau Deli dari 1864 sampai 1938 mencapai 2,77 miliar Gulden -- angka yang membuat julukan "emas hijau" bagi tembakau Nusantara terasa pas.
Dari Racikan Obat ke Industri Kretek Nasional
Selagi Deli dan Jember membesarkan nama tembakau lewat pasar cerutu Eropa, babak lain tumbuh di Kudus, Jawa Tengah, lewat jalur yang sama sekali berbeda: racikan tembakau dan cengkeh yang konon mulanya diciptakan untuk mengobati sakit dada, sekitar akhir abad ke-19. Suara "kretek" yang muncul saat racikan itu dibakar kelak menjadi nama bagi seluruh kategori rokok berbahan campuran tersebut.
Racikan rumahan itu tumbuh jadi industri lewat tangan para pengusaha lokal di awal abad ke-20 -- salah satu yang paling dikenang adalah Nitisemito, yang mendirikan perusahaan kretek "Bal Tiga" di Kudus dan memicu berdirinya puluhan pabrik kretek lain di kota yang sama. Dari sanalah nama-nama besar kretek nasional lahir satu demi satu: Sampoerna di Surabaya pada 1913, Djarum di Kudus pada 1951, dan Gudang Garam di Kediri pada 1958 -- menandai pergeseran kretek dari racikan rumahan menjadi industri berskala nasional.
Tembakau Hari Ini: dari Ladang Petani ke Penerimaan Negara
Kini, tembakau tumbuh di banyak penjuru Indonesia dengan karakter dan kisahnya masing-masing -- dari "tanaman wali" di lereng Sumbing dan Sindoro, srintil yang disebut termahal di dunia dari Temanggung, cerutu pembungkus kelas dunia dari Jember, hingga tembakau rajangan dari Madura dan Bojonegoro. Ratusan ribu petani menggantungkan hidup pada tanaman ini, dengan pasang surut harga yang masih jadi persoalan musim demi musim.
Di sisi lain, cukai hasil tembakau -- warisan langsung dari sistem yang dirintis pemerintah kolonial sejak abad ke-19 -- tetap jadi salah satu penyumbang terbesar bagi penerimaan negara hingga hari ini. Dari kapal dagang Portugis dan Spanyol empat abad lalu sampai perdebatan cukai dan regulasi masa kini, jejak tembakau di Indonesia adalah kisah panjang tentang bagaimana satu tanaman asing berubah menjadi bagian dari identitas, ekonomi, dan tantangan bangsa sekaligus.