Dari hutan belantara ke ladang emas hijau
Tahun 1859, seorang pengusaha keturunan Skotlandia-Belanda bernama George Birnie mendirikan perusahaan perkebunan di Jember, fokus pada tembakau, kopi, dan kakao. Saat itu Jember masih berupa hutan belantara, namun Birnie melihat sesuatu yang luput dari orang lain: tanah vulkanik di kawasan itu subur secara istimewa untuk tembakau. Ia mengantongi hak erfpacht -- hak guna usaha lahan -- selama 75 tahun dari pemerintah kolonial, modal yang cukup panjang untuk membangun industri dari nol.
Keberhasilan awal itu memicu migrasi buruh besar-besaran dari Madura dan Jawa, yang lambat laun melahirkan budaya campuran khas Jember bernama Pandhalungan. Birnie juga membangun deretan gudang pengering tembakau yang disebut Gudang ATAK, sebagian masih berdiri sebagai ikon kota hingga sekarang, sementara pemerintah kolonial membangun jalur kereta api ke Pelabuhan Panarukan supaya tembakau bisa lebih cepat sampai ke kapal ekspor. Atas jasanya mengubah hutan menjadi kawasan yang berkembang pesat, Birnie dijuluki "Bapak Pendiri Jember".
Disebut terbaik kedua di dunia, setelah Kuba
Varietas andalan Jember bernama Besuki Na-Oogst (BNO) -- "na-oogst" merujuk pada pola tanamnya yang ditanam menjelang akhir musim kemarau dan dipanen saat musim hujan. Daunnya tipis, elastis, dan beraroma netral, menjadikannya bahan yang nyaris sempurna untuk tiga bagian cerutu sekaligus: dekblad (pembungkus luar), omblad (pembungkus dalam), dan filler (isian). Kualitas inilah yang membuat sebagian pencinta cerutu dunia menyematkan predikat cerutu Jember sebagai yang terbaik kedua setelah cerutu Kuba -- rival yang jauh lebih mendunia namanya.
Selama puluhan tahun, tembakau ini dilelang di Amsterdam sebelum pusat lelangnya berpindah ke Bremen, Jerman, kota yang lama menjadi acuan harga tembakau cerutu dunia -- hingga lelang terakhir digelar pada 1989. Praktik lelang mungkin sudah berhenti, tapi jalur dagangnya tidak: tembakau dan cerutu Jember tetap diekspor ke Jerman, Swiss, dan Belanda, dengan pasar baru seperti Tiongkok mulai dijajaki. Sejumlah merek lokal seperti Bali Djanger, Bali Legong, dan Cadenza Long Premium menjadi wajah cerutu Jember di rak-rak toko mancanegara.
Dikenal dunia, asing di rumah sendiri
Ironisnya, ketika nama Jember disebut, kebanyakan orang Indonesia lebih dulu teringat Jember Fashion Carnaval ketimbang status kotanya sebagai penghasil cerutu kelas dunia. Padahal daun tembakau dan cerutu sudah lama dijadikan simbol resmi Kabupaten Jember, mengakar sejauh identitas administratif kota itu sendiri. Industri ini pun padat karya perempuan: pada awal 2000-an saja, satu unit pengolahan bobbin mempekerjakan ratusan buruh yang mayoritas perempuan, memproduksi ratusan juta batang cerutu kecil per tahun untuk diekspor ke Eropa dan Asia.
Sepenggal sejarah panjang ini kini sebagian dirawat lewat Museum Tembakau di Jember, tempat pengunjung bisa menelusuri jejak dari George Birnie hingga alasan mengapa tembakau Besuki Na-Oogst tak bisa ditiru begitu saja di daerah lain. Namun selama julukan "terbaik kedua di dunia" itu lebih akrab di telinga pencinta cerutu Eropa daripada masyarakat Indonesia sendiri, warisan emas hijau dari Jember akan terus jadi kebanggaan yang, anehnya, masih menunggu untuk benar-benar dikenal di rumahnya sendiri.