Lewati ke konten utama
← Kembali ke Jurnal Tembakau
Petani & Ekonomi

"Tanaman Wali" yang Menjerat Petaninya

Disebut sebagai tanaman wali sejak zaman Wali Songo, tembakau Temanggung justru menjerat petaninya dalam utang berbunga 50 persen.

6 menit baca

No. 008 · Dipublikasikan 23 Jul 2026

"Iki Tambaku": Ki Ageng Makukuhan dan asal-usul emas hijau lereng Sumbing

Nama Ki Ageng Makukuhan lekat dengan sejarah Temanggung sebagai salah satu tokoh penyebar Islam di kawasan Kedu Raya. Menurut sejumlah versi cerita rakyat setempat, ia bernama asli Ma Kuw Kwan dan disebut-sebut berasal dari Tiongkok, meski ada pula versi yang mengaitkannya dengan Mataram Kuno maupun Persia. Ia dikisahkan sebagai murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga, yang diutus berdakwah di wilayah "Sabuk Gunung" -- deretan lereng yang melingkupi Kedu Raya -- lewat jalur yang tak biasa: pertanian, pengobatan, dan peternakan.

Legenda setempat menuturkan, saat mencari tanaman obat untuk menyembuhkan seseorang, Ki Ageng Makukuhan menemukan tanaman berdaun pahit yang belum dikenal warga. Ia disebut spontan berujar "iki tambaku" -- dalam bahasa Jawa berarti "ini obatku" -- ucapan yang oleh masyarakat lereng Sumbing diyakini sebagai asal mula nama tembakau di tanah mereka. Terlepas dari benar tidaknya kisah ini secara kebahasaan, cerita itu sudah mengakar kuat: makam Ki Ageng Makukuhan di puncak Gunung Sumbing kini menjadi situs wisata religi bernama Makukuhan Heritage, dan warga sekitarnya masih rutin menggelar ritual Grebeg Makukuhan atau khaul setiap tahun untuk mengenangnya.

Emas hijau yang disakralkan

Bagi sebagian besar petani Temanggung, tembakau bukan sekadar tanaman komersial. Ia disebut "emas hijau" sekaligus "tanaman wali" -- warisan spiritual yang dipercaya membawa berkah bagi siapa saja yang menanamnya dengan sungguh-sungguh. Tim mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Gadjah Mada -- Abdila, Wahyu Lestariningsih, Devina Savana Putri, dan Ana Fitro Tunnisa, dengan bimbingan Dr. Hempri Suyatna -- menelusuri akar mitos ini dan menemukan bahwa narasi spiritual-mitologis itu turut melibatkan sosok-sosok yang disakralkan warga, termasuk Ki Ageng Makukuhan sendiri dan Saudagar Dampu Awang.

Riset itu menemukan bahwa keterlibatan tengkulak dan komunitas Tionghoa di kawasan ini justru menjadi salah satu komponen penting dalam pembentukan mitos tembakau tersebut. Meski hidup di tengah tekanan ekonomi, para petani tetap melaporkan rasa sejahtera secara subjektif lewat tiga dimensi: harmoni melalui ritual komunal, relasi sosial lewat gotong royong saat panen, dan kedekatan dengan lingkungan lewat keyakinan bahwa kesuburan tanah adalah bagian dari berkah itu sendiri.

Sisi gelap di balik berkah: jerat sistem nglimolasi

Namun di balik gelar sakral itu, kenyataan di ladang jauh lebih keras. Sebelum musim tanam dimulai, banyak petani membutuhkan modal untuk bibit, pupuk, dan biaya perawatan -- kebutuhan yang jarang bisa dipenuhi dari kantong sendiri. Di sinilah tengkulak berperan, menawarkan pinjaman lewat sistem yang dikenal dengan nama nglimolasi: pinjam 10, kembalikan 15, dengan tempo tiap 15 hari -- setara bunga 50 persen.

Sistem ini bertahan lama justru karena kemudahannya: kesepakatan dilakukan secara lisan tanpa jaminan rumit, dan pengembalian utang cukup ditunda hingga musim panen tiba. Tapi kemudahan itu berubah jadi lingkaran setan. Harga jual tembakau yang naik-turun tak menentu, ketergantungan pada cuaca ekstrem, hingga pencabutan subsidi pupuk membuat hasil panen kerap tak cukup menutup utang -- memaksa petani meminjam lagi di musim berikutnya, dan terus berulang tahun demi tahun.

Kenapa petani tetap bertahan?

Yang membuat kisah ini terasa ironis adalah petani sendiri jarang mengeluh keras soal jerat utang ini secara terbuka. Riset PKM UGM menyebut fenomena ini sebagai "paradoks persepsi kesejahteraan": petani hidup di tengah kondisi finansial yang secara objektif berat, namun tetap merasa berkecukupan karena kelekatan spiritual-emosional pada tembakau sebagai sumber berkah. Selama tanaman itu masih dianggap "tanaman wali", petani punya alasan untuk bertahan -- bukan semata kalkulasi untung rugi.

Kisah tembakau Temanggung yang biasa terdengar berkutat pada harga srintil yang bisa melambung tinggi atau kualitas daun terbaik yang diburu pabrik-pabrik besar. Tapi jarang cerita itu menyertakan sisi lain dari koin yang sama: mitos yang menjaga tembakau tetap dihormati, sekaligus sistem yang diam-diam terus mengikat petaninya sendiri, musim demi musim.