Mengikuti setiap syarat yang diminta
Di Kecamatan Tretep, di lereng Gunung Prau, Kabupaten Temanggung, Sumarno adalah satu dari ribuan petani yang menggantungkan hidupnya pada tanaman tembakau. Tahun demi tahun, ia dan petani sekitarnya berusaha memenuhi setiap standar yang diminta pabrikan: menanam varietas kemloko dan tembakau Jawa, mengikuti pola tanam yang ditentukan, hingga memilih jenis pupuk tertentu seperti fertila dan ZA, terutama bagi mereka yang tergabung dalam program kemitraan.
Semua itu bukan pekerjaan ringan. Mengolah lahan di lereng gunung, mengatur waktu tanam agar sesuai musim, dan menjaga kualitas daun sejak dari bibit membutuhkan ketelitian yang tidak bisa ditawar.
Ongkos yang terus naik, hasil yang tak selalu sepadan
Di balik daun tembakau berkualitas yang akhirnya sampai ke gudang pengepul, ada biaya yang harus ditanggung petani terlebih dahulu. Untuk satu hektare lahan, biaya produksi bisa menembus puluhan juta rupiah. Ongkos panen saja, per satu keranjang tembakau kering, berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp400 ribu — belum termasuk biaya tambahan bila cuaca tak bersahabat saat proses penjemuran.
Rohani, petani lain di kawasan yang sama, menuturkan bahwa biaya dari tanam hingga panen memang tidak sedikit. Namun besarnya biaya ini tidak selalu berbanding lurus dengan harga jual yang mereka terima ketika musim panen tiba.
Satu harapan yang sederhana
Yang diminta petani seperti Sumarno sebenarnya sederhana: harga beli yang sepadan dengan kualitas dan kerja keras yang sudah mereka curahkan selama satu musim penuh. Bukan harga sepihak yang ditentukan tanpa ruang tawar, melainkan hasil kerja sama yang adil antara petani dan pihak yang membeli hasil panen mereka.
Kisah petani lereng Prau ini adalah pengingat bahwa di balik setiap lembar tembakau berkualitas, ada tangan-tangan yang bekerja keras dan berhak mendapatkan penghargaan yang layak atas jerih payahnya.