Rempah yang pernah lebih berharga dari emas
Sebelum jadi bahan campuran yang begitu biasa dalam setiap batang kretek hari ini, cengkeh hanya tumbuh liar di segelintir pulau kecil di Maluku Utara -- terutama Ternate, Tidore, Moti, dan Makian. Dari sanalah rempah ini menyebar ke pasar dunia lewat jalur dagang yang sudah berlangsung berabad-abad sebelum orang Eropa datang.
Yang membuat cengkeh begitu diperebutkan adalah harganya: satu kilogram cengkeh Maluku pernah setara dengan tujuh gram emas di pasar Eropa pada awal kedatangan Portugis. Harga setinggi itu yang mendorong Portugis mendirikan benteng di Ternate sejak 1522, demi mengunci jalur pasokan rempah paling berharga di dunia saat itu.
Ternate melawan setelah sultannya dibunuh
Hubungan Ternate dengan Portugis yang awalnya dianggap sekutu dagang perlahan memburuk. Puncaknya pecah pada 1570: Sultan Khairun, penguasa Ternate saat itu, dibunuh lewat siasat licik Portugis setelah diundang berunding ke benteng mereka sendiri. Kematian itu memicu kemarahan besar dan mendorong putranya, Baabullah, memimpin perlawanan total.
Baabullah mengepung benteng Portugis di Ternate selama bertahun-tahun, sampai akhirnya pasukan Portugis menyerah dan meninggalkan Ternate pada 1575 -- dengan syarat meninggalkan senjata mereka di sana. Sejak itu Baabullah dikenal sebagai penguasa 72 pulau, dengan kekuasaan yang membentang dari sebagian besar Maluku hingga Sulawesi dan Sangihe.
VOC datang, monopoli dijaga lewat pelayaran hongi
Kemenangan atas Portugis tidak membuat Maluku bebas dari perebutan rempah. VOC, kongsi dagang Belanda, mengambil alih kendali dan menerapkan kebijakan yang jauh lebih sistematis mulai 1625: pelayaran hongi, yakni ekspedisi bersenjata memakai perahu kora-kora untuk memburu siapa pun yang menjual cengkeh ke luar jalur resmi VOC.
Pelayaran hongi berjalan beriringan dengan hak ekstirpasi -- wewenang VOC untuk menebang dan memusnahkan pohon cengkeh di wilayah-wilayah yang berada di luar kendali monopolinya. Tujuannya sederhana: menjaga produksi tetap terbatas supaya harga di pasar Eropa tidak jatuh.
Ribuan pohon dibabat, penduduk jadi korban
Dampak kebijakan ini nyata dan berdarah. Pada 1625 saja, patroli VOC memusnahkan beribu-ribu pohon cengkih milik rakyat Hoamoal di Pulau Seram, tanpa ada penggantian bagi penduduk yang kehilangan sumber penghidupan mereka. Warga yang ketahuan menyelundupkan cengkeh menghadapi hukuman berat, termasuk penyiksaan hingga pembunuhan.
Kekejaman ini memicu perlawanan berulang -- tercatat setidaknya tiga pemberontakan besar penduduk Maluku antara 1634 dan 1656 -- namun VOC tetap mempertahankan pelayaran hongi dan hak ekstirpasi bertahun-tahun sesudahnya sebagai cara mengunci monopoli.
Dari komoditas termahal dunia jadi bahan kretek sehari-hari
Cengkeraman monopoli itu perlahan melonggar seiring waktu, dan bibit cengkeh yang dulu nyaris hanya boleh tumbuh di sekitar Maluku mulai menyebar ke wilayah lain di Nusantara -- termasuk Jawa dan Sulawesi -- sepanjang abad ke-19.
Penyebaran itu pada akhirnya justru menyelamatkan cengkeh Indonesia dari ancaman kepunahan setelah era kolonial berakhir. Rempah yang dulu diperebutkan lewat darah kini jadi bahan baku industri kretek: sekitar 70 persen produksi cengkeh nasional diserap industri kretek dalam negeri, mengubah komoditas yang dulu semahal emas menjadi bahan racikan yang begitu biasa dalam setiap batang rokok kretek.