Bukit yang berubah keemasan tiap kali tembakau dijemur
Ada satu pemandangan yang cuma muncul saat musim panen tiba di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing, Kabupaten Temanggung: bukit dan tegalan berjajar dipenuhi hamparan anyaman bambu berwarna keemasan, tempat rajangan tembakau dijemur di bawah matahari. Di kalangan petani setempat, anyaman ini akrab disebut eblek, meski di banyak referensi dan pemberitaan alat yang sama lebih sering ditulis dengan nama rigen. Dari kejauhan, hamparan eblek yang berjajar rapat ini membuat lereng terlihat seolah dilapisi emas -- pemandangan yang jadi incaran wisatawan dan fotografer setiap musim panen tembakau berlangsung.
Betapa pentingnya eblek bagi petani terlihat dari Festival Lembutan yang digelar warga Desa Bansari setiap tahun -- perayaan yang salah satu ikonnya adalah rentetan eblek sepanjang 90 meter tanpa putus, dijemur berjajar oleh para perempuan setelah pemuda desa merajang tembakau memakai alat tradisional bernama cacak. Festival ini digelar untuk melestarikan tradisi merajang tembakau secara halus dan manual, sekaligus mendongkrak harga jual lembutan -- rajangan tembakau yang dipotong sangat tipis.
Bukan meja, hanya lembaran anyaman bambu persegi panjang
Wujud eblek sebenarnya sederhana: bukan meja berkaki seperti yang mungkin dibayangkan banyak orang, melainkan lonjoran anyaman bambu berbentuk persegi panjang yang dianyam secara sederhana dan proporsional. Di tangan perajin, ukurannya bervariasi -- ada yang berukuran 95 sentimeter x 2,25 meter, ada pula yang lebih kecil sekitar 80 sentimeter x 2 meter. Di beberapa daerah penghasil tembakau lain, petani juga memakai tampah bambu berdiameter lebar sebagai alat jemur alternatif selain eblek.
Rajangan tembakau dijemur di atas eblek mulai pukul tujuh atau delapan pagi hingga sekitar pukul tiga sore, dan harus dibolak-balik supaya tingkat keringnya merata. Prosesnya makan waktu dua sampai tiga hari tergantung cuaca -- dan yang paling pantang, rajangan ini sama sekali tidak boleh terkena air, apalagi air hujan, karena bisa merusak mutu tembakau yang sudah susah payah dirajang halus.
Dusun Letih, sentra perajin eblek Temanggung
Di balik anyaman-anyaman ini ada perajin yang sudah bekerja jauh sebelum musim panen tiba. Dusun Letih, Desa Mergowati, Kecamatan Kedu, dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan eblek atau rigen di Kabupaten Temanggung. Salah satu perajinnya, Samudi, sanggup membuat 50 eblek dalam tiga bulan kalau dikerjakan tiap hari -- satu batang bambu sepanjang 12 meter biasanya menghasilkan dua eblek, dengan lama pengerjaan dua hari yang melibatkan dua sampai tiga orang.
Harga satu eblek di tangan perajin berkisar Rp25.000 untuk ukuran kecil hingga Rp30.000 untuk ukuran besar -- dan bisa melonjak sampai Rp40.000 saat panen raya, ketika permintaan petani sedang tinggi-tingginya. Warga Dusun Letih biasanya membuat eblek untuk disimpan lebih dulu, baru dijual begitu musim tembakau tiba, menjadikan kerajinan ini pekerjaan sampingan yang mengisi masa-masa sepi di luar musim tanam.
Ruwat Rigen: mencuci eblek sebelum musim panen dimulai
Saking pentingnya alat ini bagi kelangsungan panen, petani di lereng Sindoro-Sumbing punya ritual khusus bernama Ruwat Rigen -- tradisi tahunan yang digelar sebelum musim panen tembakau dimulai. Di Kecamatan Kledung misalnya, para kepala desa turun tangan membersihkan eblek sebelum dipakai menjemur, sebagai simbol kesiapan menyambut panen. Ruwat Rigen di Kledung digelar di lapangan desa setiap menjelang musim panen dan berlangsung dua hari, diselingi doa bersama serta gelar produk UMKM setempat.
Bagi petani, ritual ini adalah wujud harapan supaya musim panen berjalan lancar dan harga tembakau tinggi -- sesuatu yang berarti besar mengingat penghasilan keluarga petani selama setahun banyak ditentukan oleh cuaca saat proses penjemuran di atas eblek berlangsung.
Tantangan: material modern dan ketergantungan pada musim
Meski dunia sudah mengenal berbagai material modern seperti logam dan plastik, para petani tembakau Temanggung tetap memilih bambu untuk meja penjemuran mereka. Ada alasan praktis di baliknya: anyaman bambu ini ringan, gampang ditumpuk dan dipindah-pindah dari ladang ke halaman rumah, serta masih bisa dianyam ulang kalau ada bagian yang rusak -- sesuatu yang tidak semudah itu ditiru bahan sintetis sekali pakai.
Tapi kerajinan ini menghadapi tantangannya sendiri: permintaan eblek sangat bergantung pada musim tembakau, sehingga perajin di Dusun Letih dan sekitarnya harus pintar-pintar mengatur waktu antara menganyam bambu dan mengisi masa sepi dengan pekerjaan lain. Selama petani Temanggung masih menjemur rajangan mereka di bawah matahari, bukit-bukit di lereng Sindoro dan Sumbing kemungkinan akan terus berubah keemasan setiap musim panen tiba -- berkat anyaman sederhana bernama eblek ini.