Lewati ke konten utama
← Kembali ke Jurnal Tembakau
Petani & Ekonomi

Ekspor Tembakau RI Mendunia, Krosoknya Malah Banyak Diimpor

Indonesia duduk di peringkat keenam eksportir produk tembakau dunia dan mengirim cerutu premium sampai ke Jerman, tapi di saat yang sama negeri ini justru mengimpor tembakau mentah dalam volume yang jauh lebih besar daripada krosok yang berhasil dijual ke luar negeri.

6 menit baca

No. 035 · Dipublikasikan 18 Sep 2026

Peringkat keenam dunia, sebuah pencapaian yang jarang dirayakan

Di tengah gempuran regulasi kesehatan dan kampanye antirokok global, industri tembakau Indonesia justru mencatat rekor ekspor. Pada 2024, nilai ekspor produk tembakau nasional tembus US$1,7 miliar, naik 21,7 persen dibanding tahun sebelumnya yang sekitar US$1,52 miliar. Capaian ini membuat Indonesia disebut sebagai eksportir produk tembakau terbesar keenam di dunia -- predikat yang jarang jadi bahan obrolan dibanding sorotan pada tingginya konsumsi rokok domestik.

Kontribusi ke kas negara pun tak kalah besar: cukai hasil tembakau menyumbang Rp216,9 triliun pada 2024, dan sektor ini disebut menopang hidup sekitar 6 juta pekerja, mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, hingga pedagang dan eksportir. Tapi angka besar itu menyimpan cerita yang lebih rumit begitu ditelusuri jenis produk apa yang sebenarnya paling laku dijual ke luar negeri.

Daun mentah jalan di tempat, rokok jadi melesat

Data ekspor daun tembakau mentah (belum diolah) menunjukkan pola yang jauh lebih datar dibanding produk jadinya. Sepanjang 2020-2024, volumenya berkutat di kisaran 8-9 ribu ton per tahun -- sempat melonjak ke 13,8 ribu ton pada 2022 senilai US$106,3 juta, turun lagi ke 8,7 ribu ton pada 2023, lalu kembali ke 8,8 ribu ton pada 2024 dengan nilai US$104,2 juta, naik 20,1 persen dari tahun sebelumnya.

Bandingkan dengan produk olahan: pada 2024, ekspor rokok kretek melonjak 106 persen menjadi 26,8 ribu ton dengan nilai US$347,6 juta, sementara total ekspor industri pengolahan tembakau -- rokok kretek, rokok dan cerutu lainnya, plus tembakau olahan -- mencapai US$1,707 miliar, naik 53,7 persen dari tahun sebelumnya. Artinya, uang yang mengalir ke Indonesia jauh lebih besar ketika daun tembakau sudah berubah jadi rokok atau cerutu jadi, bukan saat masih berupa krosok mentah.

Cerutu Indonesia mejeng di etalase Eropa

Untuk cerutu premium, Jerman jadi pasar paling gemuk -- nilai ekspor cerutu Indonesia ke negara itu tercatat lebih dari US$16,8 juta pada 2024, menempatkan Jerman di puncak daftar negara tujuan, disusul Jepang, Belgia, Amerika Serikat, dan Belanda. Total nilai ekspor cerutu Indonesia pada 2024 diperkirakan sekitar US$62,6 juta -- porsi kecil dibanding total ekspor produk tembakau, tapi bernilai tambah tinggi karena menyasar segmen premium.

Ke Jepang, cerutu Indonesia bahkan punya keuntungan tersendiri: berkat Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement yang berlaku sejak 2008, tarif impornya nol persen, sementara pesaing seperti Kuba, Republik Dominika, dan Nikaragua masih dikenai tarif sekitar 16 persen. Sebagian dari cerutu premium itu datang dari sentra-sentra yang sudah tak asing dalam pemberitaan Jurnal ini, tapi gambaran besarnya adalah pasar cerutu Eropa dan Jepang yang terus dibidik lewat jalur kemitraan dan tarif preferensial semacam itu.

Ironi di balik panggung: daun impor lebih deras dari daun ekspor

Yang jarang disorot adalah arah sebaliknya. Sepanjang Agustus 2023 hingga Agustus 2025, Indonesia justru mengimpor 363.456 ton tembakau -- naik 21 persen dibanding periode sebelumnya -- dengan mayoritas berupa tembakau Virginia yang dipakai pabrikan rokok kretek mesin. Volume impor sebesar itu jauh melampaui volume ekspor krosok mentah yang cuma berkisar 8-9 ribu ton per tahun. Negara asal impor diisi nama-nama yang sekaligus jadi pesaing Indonesia di pasar ekspor tembakau dunia: Tiongkok, India, Brasil, Amerika Serikat, dan Turki.

Perusahaan rokok besar seperti HM Sampoerna, Gudang Garam, Bentoel, dan Djarum tercatat sebagai importir utama, dengan alasan pasokan tembakau lokal belum bisa memenuhi kebutuhan volume maupun standar mutu tertentu. Bagi petani tembakau domestik, kondisi ini ikut menekan harga jual mereka -- dari kisaran Rp60.000-80.000 per kilogram turun ke Rp40.000-50.000 per kilogram dalam beberapa tahun terakhir, seiring pabrikan lebih memilih mengandalkan pasokan impor.

Tekanan dari dua arah: kampanye antirokok dan rokok ilegal

Di pasar ekspor, kampanye antirokok global lewat kerangka semacam Framework Convention on Tobacco Control terus mempersempit ruang gerak produk tembakau konvensional, memaksa eksportir mengandalkan pasar diaspora dan segmen non-tradisional seperti Asia Selatan untuk rokok kretek. Di dalam negeri, tekanan datang dari arah berbeda: peredaran rokok ilegal naik dari 3,3 persen pada 2019 menjadi 6,9 persen pada 2023 menurut catatan Kementerian Keuangan, menggerus penerimaan cukai sekaligus pasar bagi produsen resmi yang justru jadi motor ekspor.

Kombinasi tekanan itulah yang membuat pemerintah akhirnya membatalkan rencana kenaikan tarif cukai rokok pada 2026, demi menjaga daya saing industri hasil tembakau di tengah persaingan global dengan raksasa-raksasa penghasil daun seperti Brasil dan India. Jadi ketika status eksportir keenam dunia itu dibanggakan, cerita yang lebih jujur adalah: Indonesia menang besar di rokok dan cerutu jadi, tapi masih kalah bersaing untuk urusan daun tembakau mentahnya sendiri.