Bukan eblek: satu wadah lagi sebelum tembakau sampai ke gudang
Di ladang-ladang tembakau Temanggung, rajangan yang baru selesai dipotong tipis-tipis memang dijemur dulu di atas eblek atau rigen -- anyaman bambu tempat tembakau dihampar di bawah matahari sampai kering. Tapi begitu tahap "ngeler" (menghampar tipis di atas rigen), "malik" (membalik supaya kering merata), dan "ngeyem" (mengecek kadar kering) selesai, tembakau belum langsung dijual. Di Desa Tuksongo dan desa-desa penghasil tembakau lain, tahap berikutnya disebut "ngemot" -- mengemas rajangan kering ke dalam wadah bernama kranjang mbako sebelum diangkut dan disimpan.
Kranjang mbako inilah yang membedakan diri dari eblek. Kalau eblek dipakai berulang-ulang di ladang khusus untuk menjemur, kranjang mbako justru jadi kemasan akhir yang menampung tembakau yang sudah benar-benar kering, ditata rapi, lalu dibawa ke gudang atau ditimbang pedagang pengepul. Satu wadah untuk mengeringkan, satu wadah lagi untuk mengemas dan mengangkut -- dua tahap yang mudah tertukar kalau cuma dengar sekilas, padahal betul-betul beda barang dan beda fungsi.
Anyaman bambu pringapus berlapis puluhan lembar pelepah pisang kering
Bentuk kranjang mbako jauh dari kesan keranjang belanja biasa. Badannya dianyam dari bilah-bilah bambu selebar 3-5 sentimeter dengan ketebalan sekitar 0,5 milimeter yang dirajut rapat, membentuk keranjang berdiameter 50-60 sentimeter dengan tinggi 60-70 sentimeter. Di Kecamatan Kandangan, perajin memilih bambu jenis pringapus karena teksturnya lentur dan pas untuk dianyam padat. Bagian dalamnya lalu dilapisi sekitar 90 lembar pelepah pisang kering, dipakai lagi sebagai penutup begitu keranjang penuh terisi rajangan.
Lapisan pelepah pisang ini bukan sekadar pengisi -- fungsinya menjaga kelembapan, aroma, dan tekstur tembakau supaya tidak berubah selama disimpan atau diangkut, sekaligus membuat keranjang tahan lama dan relatif aman dari gigitan tikus karena rasa pelepahnya yang pahit. Kranjang mbako biasa dijual sepasang dalam satu satuan yang disebut kepok -- istilah yang dipakai seragam oleh petani dan perajin di Temanggung.
Perajin yang menghidupi Kecamatan Kandangan
Salah satu perajin veteran adalah Karsono, 58 tahun, warga Dusun Balun, Desa Caruban, Kecamatan Kandangan, yang sudah 32 tahun menggeluti usaha ini. Dalam sehari ia sanggup menyelesaikan 130-140 keranjang, dengan waktu pengerjaan sekitar 30 menit per keranjang. Hasil anyamannya tidak cuma laku di Temanggung, tapi merambah pasar Parakan, Wonosobo, Boyolali, Muntilan, sampai Prambanan.
Di dusun tetangga, Dusun Tentrem, Desa Rowo, Kecamatan Kandangan, ada Nanang Setiawan, 28 tahun, yang menjalankan usaha serupa dengan modal awal Rp150 juta dan mempekerjakan sembilan karyawan. Kapasitas produksinya mencapai 50 kepok per hari, dengan bahan pelepah pisang yang sengaja didatangkan dari luar daerah seperti Purwodadi, Boyolali, dan Jogja karena pasokan lokal tidak selalu mencukupi.
Harga yang naik-turun mengikuti musim panen
Harga kranjang mbako bergerak mengikuti ritme musim tembakau. Karsono pernah menjual Rp125.000 per kepok di awal musim panen, dengan proyeksi naik sampai Rp200.000 saat panen memuncak. Nanang menjual produknya seharga Rp160.000 per kepok. Di sumber lain, harga per kepok bahkan disebut bisa mencapai Rp200.000-Rp300.000 saat permintaan gudang tembakau sedang tinggi-tingginya -- variasi yang wajar mengingat harga kranjang memang ditentukan tahun panen dan seberapa deras tembakau yang perlu dikemas.
Skala kebutuhannya cukup besar: total permintaan kranjang mbako di Temanggung diperkirakan lebih dari 500.000 buah per tahun, tergantung volume produksi tembakau kering setiap musim. Produksi kranjang pun ikut meningkat tajam setiap Juli sampai September, persis saat musim panen tembakau berlangsung di lereng Sindoro dan Sumbing.
Saat gudang tembakau sepi, kranjang pun ikut sepi order
Usaha kranjang mbako sangat bergantung pada nasib tembakau itu sendiri. Nanang Setiawan merasakan sendiri dampaknya saat pandemi: omzetnya anjlok separuh, dari 2.250 kepok terjual di tahun normal menjadi hanya 1.500 kepok, gara-gara gudang tembakau membatasi pembelian. "Saya sebagai pengusaha keranjang sangat berharap bahwa tembakau laku seperti biasanya," ujarnya, berharap situasi segera pulih supaya usahanya bisa berjalan lancar lagi.
Meski begitu, bambu dan pelepah pisang belum tergantikan karung plastik atau goni sebagai kemasan tembakau kering -- karena keduanya tetap menjaga sirkulasi udara supaya tembakau tidak lembap dan berjamur selama disimpan atau diangkut jarak jauh. Selama gudang-gudang tembakau di Temanggung masih menerima setoran dalam kepok-kepok kranjang mbako, perajin di Kandangan dan sekitarnya punya alasan untuk terus menganyam bambu, mengikuti naik-turunnya musim panen tembakau setiap tahun.