Turun dari kapal, lalu berdagang di gerbong kereta
Liem Seeng Tee lahir pada 1893 di Fujian, Tiongkok, dan ikut ayahnya berlayar ke Hindia Belanda sekitar 1898 -- saat usianya baru lima tahun. Ibunya sudah meninggal, dan dalam perjalanan itu kakak perempuannya terpaksa ditinggalkan di Singapura karena uang mereka tidak cukup untuk membawa dua anak sampai tujuan. Perantauan yang sudah getir itu jadi lebih getir lagi: enam bulan setelah tiba di Surabaya, ayahnya meninggal. Seeng Tee kecil kemudian diasuh sebuah keluarga angkat di Bojonegoro sampai usia sebelas tahun -- setelah itu ia praktis menghidupi dirinya sendiri.
Pendidikan bisnis pertamanya bukan di ruang kelas, melainkan di lorong-lorong kereta api. Sebagai remaja, ia berjualan makanan berkeliling di antara gerbong pada rute Surabaya-Jakarta -- pekerjaan yang mengajarinya membaca selera penumpang dan menghitung margin tipis setiap hari. Dari tabungan hasil berjualan itu, pada usia sekitar tiga belas tahun ia membeli sebuah sepeda bekas yang membuat jangkauan dagangnya jauh lebih luas.
Ia juga sempat bekerja dan belajar melinting tembakau di sebuah pabrik di Lamongan -- keterampilan yang belakangan jadi fondasi seluruh hidupnya. Pada 1912 ia menikahi Siem Tjiang Nio, dan sekitar enam bulan kemudian pasangan itu menyewa sebuah warung di kawasan kota lama Surabaya untuk berjualan kelontong, tembakau, dan rokok lintingan tangan buatan mereka sendiri.
1913: nama Belanda untuk usaha seorang perantau
Melihat pasar rokok yang terus tumbuh, pada 1913 Seeng Tee meresmikan usahanya dengan nama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee. Belakangan perusahaan itu berganti nama menjadi Handel Maatschappij Sampoerna -- diambil dari kata sempurna, sebuah nama Indonesia yang ia adopsi pada era 1930-an dan kelak jadi nama keluarganya. Jalannya tidak mulus. Pada 1916 kebakaran melahap usaha awalnya. Yang menyelamatkan mereka justru simpanan sang istri: dengan uang itu Seeng Tee membeli sebuah perusahaan tembakau yang sedang bangkrut, lalu melanjutkan produksi dari sana. Pasangan ini juga menjalankan pembagian kendali usaha antara suami dan istri -- praktik yang saat itu berseberangan dengan kebiasaan bisnis keluarga Tionghoa, tapi terbukti bekerja.
Dua, tiga, empat -- dan kenapa selalu berujung sembilan
Merek andalannya diberi nama Dji Sam Soe, yang dalam dialek Hokkian berarti dua-tiga-empat. Bukan angka sembarangan: 2 ditambah 3 ditambah 4 sama dengan 9, dan Liem Seeng Tee memegang keyakinan Tionghoa bahwa sembilan adalah angka kesempurnaan sekaligus keberuntungan. Logikanya sederhana tapi konsisten -- selama angka itu menyertai perusahaannya, keberuntungan diyakini ikut menyertai.
Filosofi itu dijaga sampai ke detail visual. Kemasan Dji Sam Soe membawa lambang sembilan bintang, dan nama Sampoerna sendiri disusun agar sejalan dengan hitungan yang sama. Sampoerna juga sempat mengeluarkan merek-merek berangka lain seperti 123, 678, dan 720. Yang paling mencolok adalah keteguhannya: sejak sekitar 1914 sampai tahun 2000, desain kemasan Dji Sam Soe praktis tidak berubah -- di pasar dan warung, orang bahkan cukup menyebut "dua tiga empat" tanpa perlu menyebut nama mereknya.
Taman Sampoerna, lalu sel di Penjara Koblen
Pada 1932 produksi dipindahkan ke kompleks seluas sekitar 1,5 hektare di kawasan Jembatan Merah, Surabaya, yang ia beri nama Taman Sampoerna -- gabungan pabrik, gedung pertunjukan, dan rumah tinggal keluarga dalam satu area. Pada masa puncaknya, pabrik itu mempekerjakan sekitar 1.300 orang dan memproduksi kira-kira 3 juta batang rokok setiap minggu.
Semuanya runtuh pada 1942. Hanya beberapa jam setelah Belanda menyerah di Wonokromo, pasukan Jepang mendatangi Taman Sampoerna. Seeng Tee ditahan, sementara istrinya ditodong dan dipaksa membuka brankas serta tempat penyimpanan harta keluarga. Di Penjara Koblen, Surabaya, ia dituduh mengirim dana untuk membantu Tiongkok dalam perang melawan Jepang, lalu dikirim menjalani kerja paksa hingga ke Jawa Tengah dan Jawa Barat. Pabriknya sendiri dipakai memproduksi rokok untuk tentara pendudukan tanpa kompensasi apa pun.
Sembilan yang bertahan lebih lama dari pendirinya
Keluarga itu baru berkumpul kembali pada 1945, dan Seeng Tee memulai lagi dari puing usahanya. Ia meninggal di Surabaya pada 10 Agustus 1956 dalam usia 63 tahun. Perusahaan yang ditinggalkannya sempat terseok sebelum putranya, Liem Swie Ling -- yang lebih dikenal sebagai Aga Sampoerna -- membangkitkannya kembali dengan memusatkan tenaga pada satu produk: Dji Sam Soe. HM Sampoerna kemudian melantai di bursa pada 1990.
Babak terakhirnya datang pada 14 Maret 2005, ketika Philip Morris International mengumumkan akuisisi HM Sampoerna dengan nilai sekitar 5,2 miliar dolar AS -- setara sekitar Rp48 triliun termasuk utang bersih. PT Philip Morris Indonesia lebih dulu membeli 40 persen saham seharga Rp10.600 per lembar atau sekitar Rp18,6 triliun, premium sekitar 20 persen dari harga penutupan sebelumnya di Rp8.850. Saat itu Sampoerna adalah produsen rokok terbesar ketiga di Indonesia dengan pangsa pasar 19,4 persen dan volume 41 miliar batang sepanjang 2004. Imperium yang dimulai seorang bocah penjual makanan di gerbong kereta akhirnya berpindah tangan -- tapi angka 234 di bungkusnya tetap di tempatnya.