Cethe, Kata Jawa untuk Ampas Kopi yang Jadi Nama Sebuah Kesenian
Istilah cethe berasal dari bahasa Jawa yang berarti ampas atau endapan kopi, sementara kegiatannya disebut nyethe -- mengoleskan endapan kopi itu ke permukaan batang rokok sampai membentuk pola. Kebiasaan ini begitu lekat dengan Tulungagung, Jawa Timur, sampai kabupaten itu dijuluki Kota Cethe, dan hasil olesannya sering disebut orang setempat sebagai batik rokok karena motifnya yang rumit dan berulang.
Panggungnya bukan sanggar atau bengkel kriya, melainkan warung kopi. Di sana orang dari berbagai kalangan duduk berbincang tanpa memandang status sosial, dan nyethe jadi kegiatan yang mengisi jeda di antara obrolan -- sekaligus ajang diam-diam memamerkan ketelatenan tangan kepada sesama pengunjung warung.
Lahir di Warung Kopi Petani pada 1980-an
Tradisi nyethe diyakini mulai populer sekitar tahun 1980-an di kalangan petani Tulungagung. Sepulang dari sawah, mereka singgah di warung kopi untuk beristirahat dan berbincang sambil menikmati kopi dan sebatang rokok, lalu mulai mengoleskan ampas kopi ke batang rokok yang mereka isap -- mulanya tanpa maksud artistik apa pun.
Alasan awalnya justru fungsional. Lapisan ampas kopi membuat rokok tidak cepat habis terbakar dan dipercaya menambah aroma serta rasa saat diisap. Praktik ini berakar jauh ke kebiasaan mengoles rokok klobot -- rokok berbungkus kulit jagung yang jadi bentuk paling awal kretek tradisional -- sebelum akhirnya berkembang jadi seni menghias dengan bermacam motif.
Kopi Halus, Susu Cair, dan Sebatang Tusuk Gigi
Bahan bakunya tidak bisa sembarang kopi. Yang dibutuhkan adalah kopi bubuk yang benar-benar halus dan kental, jenis yang endapannya mengumpul rapat di dasar cangkir seperti kopi klethik. Kopi itu diendapkan lebih dulu sampai ampasnya terpisah dari air, baru kemudian diambil dan dilaburkan ke batang rokok memakai sendok kecil atau alat khusus.
Karena daya rekat ampas murni sering kurang, sebagian pelaku menambahkan susu cair untuk meningkatkan kekentalan sekaligus membuat lapisan menempel lebih kuat. Setelah rokok terselimuti lapisan cokelat pekat, tusuk gigi atau lidi masuk sebagai alat gores: ujungnya menyapu lapisan ampas hingga menyisakan garis-garis negatif yang membentuk gambar.
Dari Pola Tribal sampai Tokoh Pewayangan
Motifnya berkembang jauh dari sekadar corengan. Dari garis dan lingkaran sederhana, pelaku nyethe merambat ke tulisan, pola tribal, sampai tokoh pewayangan yang digores di bidang selebar batang rokok. Ironi kerajinan ini terletak pada umurnya: motif yang digarap dengan telaten itu memang tidak dibuat untuk disimpan, karena akan lenyap begitu rokoknya disulut.
Rekor MURI 2005, Cangkir Porselen, dan Warung yang Masih Ramai
Nyethe bukan cuma kebiasaan warung, tapi juga pernah dilombakan secara massal. Pada 18 November 2005, Tulungagung mencatatkan rekor MURI untuk kategori melukis pada batang rokok menggunakan endapan kopi terbanyak, dengan 2.710 peserta -- rekor pertama dari sebelas rekor MURI yang pernah diraih kabupaten itu.
Tradisinya juga berpindah media. Sejak 2008, Sasang Prio Santoso mengembangkan motif cethe ke permukaan cangkir dan produk porselen, membuka nilai ekonomi baru sekaligus melepaskan kesenian ini dari ketergantungan pada batang rokok sebagai satu-satunya kanvas.
Di kota asalnya, praktik ini masih berjalan setiap hari. Warung Mak Waris yang dikenal dengan kopi ijo khas Tulungagung, Mak Tin, Cak Yun, BG, Pinka di tepi Kali Ngowo, hingga Cethoel di Ngunut tetap jadi titik kumpul warga lintas usia -- tempat secangkir kopi tidak berhenti di teguk terakhir, melainkan berlanjut ke ampas di dasar cangkir.