Lewati ke konten utama
← Kembali ke Jurnal Tembakau
Sejarah

Mitos Haji Djamhari dan Raja Kretek Sesungguhnya dari Kudus

Kisah Haji Djamhari meracik cengkeh untuk asma pada 1880 jadi legenda paling populer soal asal-usul kretek -- tapi sejarawan meragukan buktinya, dan sosok yang benar-benar membesarkan industri ini justru Nitisemito, anak lurah dari Kudus.

7 menit baca

No. 014 · Dipublikasikan 4 Agu 2026

Legenda Haji Djamhari dan bunyi "kretek-kretek"

Cerita paling populer soal asal-usul kretek dimulai dari Haji Djamhari, warga Kudus yang mengidap asma pada 1880. Untuk meredakan sesak di dadanya, ia rutin mengoleskan minyak cengkeh -- dan kondisinya membaik saat ia mencoba mengunyah cengkeh langsung. Dari situ, ia bereksperimen mencampur cengkeh dan tembakau lalu menggulungnya jadi rokok, dengan harapan asapnya bisa masuk lebih dalam ke paru-paru dan meredakan sesak napasnya.

Nama "kretek" sendiri konon berasal dari bunyi "kretek-kretek" yang muncul saat cengkeh dalam rokok itu terbakar -- mirip bunyi dedaunan kering yang dibakar. Atas saran keluarga dan kenalannya, racikan yang awalnya dibuat sebagai obat pribadi itu kemudian diproduksi lebih luas.

Kenapa sejarawan meragukan kisah ini

Meski populer dan sering diulang, kisah Haji Djamhari tidak punya bukti sejarah yang kuat -- selama bertahun-tahun ia lebih banyak dipandang sebagai tokoh legenda lokal ketimbang figur historis yang benar-benar tercatat. Catatan-catatan Belanda dari akhir abad ke-19 justru menyebut rokok cengkeh sudah lazim ditemukan di Jawa Tengah, khususnya di Kudus dan sekitarnya, jauh sebelum kisah Djamhari populer -- artinya kretek kemungkinan besar sudah ada lebih dulu ketimbang legenda penemunya sendiri.

Sejumlah riset belakangan mengklaim menemukan catatan silsilah dan cerita lisan keluarga yang mendukung keberadaan historis Haji Djamhari, meski perdebatan soal perannya yang sebenarnya masih berlanjut. Yang lebih disepakati banyak sejarawan: nama "kretek" sendiri kemungkinan besar berasal dari bunyi pembakaran cengkeh, bukan dari nama seseorang.

Nitisemito, anak lurah yang jadi raja kretek

Sosok yang lebih pasti tercatat dalam sejarah kretek adalah Nitisemito -- lahir dengan nama Roesdi di Kudus pada 1863, anak seorang lurah yang justru lebih tertarik berdagang ketimbang bekerja di pemerintahan. Ia sempat berjualan daging kerbau sebelum mulai memproduksi rokok kretek dalam skala kecil pada awal abad ke-20, dan pada 1908 resmi mendaftarkan mereknya dengan nama Tjap Bal Tiga.

Dari pabrik kecil di Kudus, bisnis Nitisemito berkembang pesat hingga mempekerjakan sekitar 10.000 orang pada masa puncaknya -- meluas dari Kudus ke seluruh Jawa, bahkan sampai Singapura.

Promosi dari pesawat udara sampai sepeda mewah

Nitisemito dikenal sebagai pengusaha yang jauh melampaui zamannya dalam urusan pemasaran. Ia pernah menyewa pesawat terbang untuk menyebar selebaran iklan Bal Tiga dari udara, mengadakan undian sepeda mewah bagi pembeli rokoknya, aktif ikut pameran dagang di berbagai daerah, sampai mengoperasikan armada kendaraan sendiri untuk mengirim puluhan bal rokok ke agen-agen di berbagai wilayah. Kariernya bahkan sempat bersinggungan dengan tokoh pergerakan yang kelak jadi presiden pertama Indonesia, Soekarno.

Runtuh setelah masa keemasan

Namun kejayaan itu tak bertahan selamanya. Bisnis Nitisemito ikut terguncang oleh dampak Perang Dunia II, lalu Agresi Militer Belanda I pada 1947 yang kembali melumpuhkan produksi. Ia sempat berharap putranya, Sumadji, melanjutkan bisnis keluarga -- tapi Sumadji justru lebih aktif di partai Masyumi ketimbang mengurus pabrik. Ditambah kelangkaan cengkeh yang membatasi produksi dan konflik internal keluarga soal suksesi, kretek Bal Tiga makin sulit bersaing di pasaran.

Nitisemito, yang dikenang sebagai bapak industri kretek Indonesia, meninggal pada 1953 di usia 78 tahun. Dua tahun setelahnya, perusahaan yang pernah mempekerjakan ribuan orang dan beriklan lewat pesawat terbang itu resmi bangkrut -- menyisakan Kudus sebagai "kota kretek" dan pelajaran bahwa raja kretek pertama Indonesia pun tidak luput dari keruntuhan.

Sumber & referensi

  1. Historia.id — "Menyibak Mitos Haji Djamhari"
  2. detikJateng — "Kisah Mas Nitisemito, Bapak Kretek Indonesia Asal Kudus"
  3. Historia.id — "Padamnya Rokok Kretek Bal Tiga Nitisemito"

Artikel ini disusun ulang oleh redaksi Jurnal Tembakau berdasarkan informasi dari sumber-sumber di atas, sesuai Kode Etik Jurnalistik Pasal 3 (menguji informasi) dan Pasal 6 (tidak menjiplak).