Dari Pulau Garam ke pabrik rokok pamannya
Sosok yang kelak dikenal sebagai Surya Wonowidjojo lahir dengan nama Tjoa Jien Hwie -- belakangan lebih sering ditulis Tjoa Ing-Hwie -- di Fujian, Tiongkok, pada 1923. Ia tiba di Hindia Belanda pada 1926, saat usianya baru tiga tahun, dan keluarganya menetap di Madura. Ada ironi kecil di situ: pulau tempat ia tumbuh dikenal luas sebagai Pulau Garam, jauh sebelum kata garam melekat pada merek rokok yang ia dirikan. Setelah ayahnya meninggal, Ing-Hwie pindah ke Kediri, Jawa Timur, ikut pamannya.
Sang paman, Tjoa Kok Tjiang, memiliki pabrik rokok Cap 93 di Kediri. Ing-Hwie masuk sebagai karyawan dan ditempatkan mengepalai bagian pencampuran saus -- bagian paling rahasia dalam pembuatan kretek, tempat racikan rasa ditentukan. Kariernya naik sampai ia dipercaya menjadi kuasa direktur, posisi yang ia pegang kurang lebih enam tahun hingga 1956. Artinya, ketika kelak ia membangun pabriknya sendiri, ia bukan pemula yang meraba-raba.
Perselisihan yang melahirkan pesaing
Hubungan paman dan keponakan itu retak pada pertengahan 1950-an. Versi yang beredar setidaknya ada dua: Ing-Hwie berbeda pendapat soal rencana ekspansi pabrik, atau ia menuntut bagian saham atas kontribusinya. Apa pun pemicunya, hasilnya sama -- pada 1956 ia keluar dari Cap 93, dan tidak pergi sendirian. Sekitar 50 karyawan pabrik itu ikut bersamanya.
Usaha pertamanya adalah kretek klobot rumahan bermerek Inghwie, memakai namanya sendiri. Merek itu tidak laku. Kegagalan awal ini yang jarang disebut ketika orang membicarakan Gudang Garam sebagai kisah sukses instan.
Nama yang datang dari mimpi, logo yang digambar karyawan
Titik baliknya justru datang dari luar nalar bisnis. Ing-Hwie disebut bermimpi melihat bangunan gudang garam tua di dekat rel kereta jalur Kertosono-Bangil -- gudang yang letaknya persis di seberang pabrik Cap 93, tempat ia dulu bekerja. Mimpi itu ia jadikan nama merek baru: Tjap Gudang Garam.
Gambar gudang itu kemudian dituangkan jadi logo oleh seorang karyawannya sendiri bernama Sarman. Pada 26 Juni 1958, di Desa Semampir, Kediri, Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam resmi berdiri sebagai industri rumahan.
Dari 200 pekerja jadi produsen kretek terbesar
Pertumbuhannya cepat. Pada 1960 Gudang Garam membuka cabang di Gurah, sekitar 13 kilometer tenggara Kediri, dengan sekitar 200 pekerja. Lompatan besar datang pada 1962 lewat produk Gudang Garam Kuning: produksi melonjak dari 234 juta batang menjadi 779 juta batang dalam setahun. Pada 1966, perusahaan yang delapan tahun sebelumnya masih industri rumahan itu sudah jadi produsen kretek terbesar di Indonesia, dengan ribuan karyawan dan kapasitas produksi sekitar 50 juta batang per bulan.
Struktur usahanya ikut naik kelas: dari perusahaan perseorangan menjadi firma pada 1968-1969, lalu berbadan hukum perseroan terbatas pada 1971. Sigaret kretek mesin mulai diproduksi pada 1979, dan pada 1990 saham perusahaan tercatat di bursa efek Jakarta dan Surabaya.
Catur Dharma dan cara ia memperlakukan buruhnya
Surya Wonowidjojo meninggal pada 28 Agustus 1985. Yang ia tinggalkan bukan cuma pabrik, tapi seperangkat prinsip bernama Catur Dharma yang sampai kini dipakai perusahaan: hidup yang berguna bagi masyarakat adalah kebahagiaan; kerja keras, keuletan, kejujuran, kesehatan, dan keyakinan adalah syarat sukses; sukses tidak bisa dilepaskan dari peran dan kerja sama orang lain; dan karyawan adalah mitra usaha yang utama.
Butir terakhir itu terasa masuk akal bagi orang yang memulai kariernya sebagai karyawan, lalu memulai perusahaannya sendiri dengan 50 buruh yang memilih ikut pergi bersamanya. Hari ini penerusnya mengelola perusahaan dengan 21.964 karyawan pada akhir 2025 -- kepemimpinan berpindah ke putranya, Rachman Halim, setelah 1985, lalu ke Susilo Wonowidjojo sejak 2008. Sementara nama merek yang menopang semuanya tetap berasal dari sebuah gudang garam tua di seberang pabrik yang dulu ia tinggalkan.