Kabupaten garam yang ternyata berkebun tembakau
Rembang selama ini punya citra sebagai kabupaten pesisir penghasil garam, rumah legenda Rara Mendut, dan kota pusaka Lasem dengan klenteng serta kampung Tionghoanya. Tapi menjauh dari garis pantai, tegalan kering yang membentang di sepanjang pantura menyimpan komoditas lain yang menghidupi puluhan ribu keluarga: tembakau rajangan.
Skalanya tidak kecil. Menurut Dinas Pertanian dan Pangan Rembang, luas tanam tembakau pada semester pertama 2026 mencapai 7.440 hektare, tersebar di 12 dari 14 kecamatan yang ada di kabupaten ini -- dengan Kaliori, Sumber, dan Sulang sebagai basis utamanya.
Uang ratusan miliar dari lahan yang jarang disorot
Dari luasan itu, Pemkab Rembang memperkirakan perputaran uang selama sekitar enam bulan musim tanam dan panen bisa menyentuh Rp455 miliar. Angka ini disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Rembang, Agus Iwan Haswanto, saat menjelaskan produktivitas tembakau kemitraan yang rata-rata 1,5 hingga 2 ton per hektare.
Setahun sebelumnya, skalanya juga tidak jauh berbeda meski hasilnya berfluktuasi. Pada musim 2024, luas tanam tercatat 7.200 hektare dan menghasilkan total 10.800 ton tembakau kering dengan nilai transaksi sekitar Rp486 miliar -- meski produktivitas per hektare sempat turun dari 2 ton menjadi 1,5 ton akibat cuaca panas ekstrem.
Nori dan Srumpung, dua wajah tembakau Rembang
Petani Rembang menanam tembakau rajangan rakyat dengan dua varietas utama: Nori, yang selama ini jadi favorit pabrik pengolah PT Sadana Arifnusa, dan Srumpung -- yang oleh warga setempat akrab disebut mbako kalikoro. Srumpung dikenal lebih mudah dirawat dan tetap produktif, sehingga sering jadi pilihan ketika musim tanam bergeser dari jadwal ideal.
Harga di tingkat petani bergerak lebar tergantung grade dan musim, berkisar dari sekitar Rp35.000 sampai Rp50.000 per kilogram. Rentang itu membuat hasil panen tembakau, meski berasal dari lahan tegalan yang kering dan minim irigasi, tetap jadi sumber pendapatan yang diperhitungkan warga pesisir utara ini.
Dari petak tembakau ke rumah tembok dan naik haji
Ansori, petani di Desa Gunem, adalah salah satu buktinya. Sejak bermitra dengan PT HM Sampoerna pada 2018, ia berhasil membeli tanah seluas dua hektare, sebuah sepeda motor, dan menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi -- semua dari hasil bertani tembakau.
Cerita serupa datang dari Suparno, petani tembakau di Desa Kunir yang sudah bermitra sejak 2010. Selain berhasil naik haji dan membangun rumah, ia melebarkan usaha ke penjualan karung goni, mesin perajang, dan tikar bambu untuk penjemuran -- bisnis turunan yang tumbuh di sekitar rantai pasok tembakau kemitraan.
Ketika cuaca pantura tidak bisa diajak kompromi
Dua musim berturut-turut membuktikan betapa rentannya ladang tembakau Rembang terhadap cuaca. Pada 2024, panas ekstrem menekan produktivitas hingga seperempatnya. Setahun kemudian giliran hujan yang jadi musuh: luas tanam yang semula 7.200 hektare anjlok menjadi sekitar 4.000 hektare pada 2025 karena hujan turun terus-menerus di masa yang seharusnya kering.
Bati, petani di Kecamatan Kaliori, jadi salah satu yang paling merasakan dampaknya. Sekitar 23.000 batang tembakau miliknya -- setara satu hektare -- mati akibat hujan yang tak kunjung reda, memaksanya menanam ulang tiga sampai empat kali dan membeli bibit pengganti seharga Rp150.000 per ikat. Di kabupaten yang selama ini dikenal lewat garamnya, ladang tembakau di tegalan pantura justru jadi taruhan yang jauh lebih tidak pasti.