Lewati ke konten utama
← Kembali ke Jurnal Tembakau
Kerajinan

Tingwe: Kenapa Melinting Sendiri Bisa Hemat 80 Persen

Setiap kenaikan cukai membuat rokok pabrikan makin mahal -- kini ada yang tembus Rp56.900 sebungkus -- dan mendorong makin banyak orang, terutama anak muda, kembali melinting tembakau sendiri lewat tradisi bernama tingwe.

5 menit baca

No. 012 · Dipublikasikan 31 Jul 2026

Tingwe, singkatan sederhana untuk kebiasaan yang makin ramai

Tingwe adalah singkatan dari "linting dewe" -- bahasa Jawa untuk "menggulung sendiri". Istilah ini merujuk pada kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan menggulung sendiri tembakau rajangan memakai kertas rokok, alih-alih membeli rokok pabrikan yang sudah jadi. Praktiknya sudah lama ada, tapi belakangan makin sering dibicarakan sebagai "alternatif" seiring harga rokok pabrikan yang terus merangkak naik.

Rokok pabrikan makin mahal tiap tahun

Pemerintah rutin menaikkan Cukai Hasil Tembakau (CHT) hampir setiap tahun -- kenaikan pada 2020 tercatat 23 persen, yang jadi kenaikan cukai tembakau tertinggi dalam satu dekade, sementara pada 2022 cukai naik rata-rata 12 persen (rokok kretek tangan naik lebih kecil, sekitar 5 persen dengan batas maksimal 4,5 persen). Akumulasi kenaikan ini membuat harga rokok pabrikan di pasaran pada 2026 berkisar Rp30.500 hingga Rp56.900 per bungkus untuk merek-merek populer. Pemerintah memakai kebijakan ini baik sebagai instrumen rutin pendapatan negara maupun upaya menekan angka konsumsi.

Kenapa tembakau lintingan jauh lebih murah

Salah satu alasan utamanya ada di aturan cukai itu sendiri: tembakau rajangan yang dijual lepas pada dasarnya tidak kena cukai, selama tidak dikemas dan diberi merek per gram. Begitu dikemas dan dijual bermerek sebagai tembakau iris, barulah kena cukai -- tapi tarifnya termasuk salah satu yang terendah di Indonesia, sekitar Rp30 per gram untuk harga jual eceran di kisaran Rp275 per gram. Selisih tarif cukai inilah yang membuat tingwe diklaim bisa menghemat pengeluaran rokok hingga 80 persen dibanding membeli rokok pabrikan.

Lebih dari sekadar irit: soal meracik sendiri

Selain harga, tingwe menawarkan sesuatu yang tidak didapat dari rokok pabrikan: kebebasan meracik. Penikmatnya bisa memilih sendiri jenis tembakau, menambahkan saus atau cengkeh sesuai selera, dan menentukan sendiri seberapa tebal gulungan yang mereka buat -- semacam kerajinan kecil yang jadi bagian dari ritual sebelum menyalakan rokok linting itu sendiri. Tren inilah yang membuat toko-toko tembakau lepas kebanjiran order begitu harga rokok pabrikan naik, seperti yang dialami sejumlah toko tembakau di kawasan Jabodetabek pasca kenaikan cukai awal 2022.

Bergeser dari kebiasaan lama ke tren anak muda

Kalau dulu tingwe identik dengan generasi lebih tua di warung-warung kopi, belakangan kebiasaan ini mulai bergeser ke kalangan muda yang mencari cara lebih hemat menikmati tembakau di tengah harga rokok yang terus naik. Selama tembakau rajangan lepas masih jauh lebih murah dari rokok jadi, tingwe kemungkinan akan terus jadi pilihan -- bukan cuma soal berhemat, tapi juga cara sebagian orang tetap punya kendali atas apa yang mereka linting sendiri.

Sumber & referensi

  1. Suara.com Surakarta — "Pedagang Tembakau untuk Tingwe Bisa Kena Tarif Cukai"
  2. Inilah.com — "Foto: Tembakau Tingwe Laris Manis Pasca Cukai Rokok Naik"
  3. Komunitas Kretek — "30 Harga Rokok Termahal di Indonesia Tahun 2026"

Artikel ini disusun ulang oleh redaksi Jurnal Tembakau berdasarkan informasi dari sumber-sumber di atas, sesuai Kode Etik Jurnalistik Pasal 3 (menguji informasi) dan Pasal 6 (tidak menjiplak).