Sebelum Rokok Jadi Rokok, Ada Tangan yang Memilah Daun
Cerita soal buruh perempuan di industri tembakau biasanya berhenti di meja giling dan batil -- tempat rokok kretek tangan digulung dan dirapikan. Tapi jauh sebelum daun tembakau sampai ke meja itu, ada tahap yang nyaris tidak pernah masuk berita: menyortir dan menggrading lembar demi lembar daun kering di gudang pengumpul, memilah warna, ukuran, dan cacat sebelum daun itu layak dijual ke pabrik. Pekerjaan ini hampir seluruhnya dikerjakan perempuan, dari gudang tembakau Deli di Sumatera Utara sampai sentra cerutu di Jember dan gudang musiman di Lombok.
Memilah Bukan Sekadar Warna
Menurut National Geographic Indonesia, pekerjaan di gudang pengolahan tembakau Deli mencakup tahap sortir berdasarkan dimensi, kondisi, dan mutu daun -- sebelum masuk proses pengeraman dan pengasapan yang menentukan tembakau itu layak jadi pembalut cerutu (wrapper) kelas ekspor atau tidak. Setiap lembar daun diperiksa satu per satu, dipilah sesuai kualitasnya, sebelum dikelompokkan ke gradenya masing-masing.
Ketelitian semacam ini menuntut jam terbang. Di gudang tembakau Deli yang menurut catatan National Geographic Indonesia sudah menyusut dari ribuan pekerja pada era 1990-an menjadi sekitar 90 orang pada 2019, rata-rata pekerja yang tersisa sudah bekerja lebih dari 30 tahun -- salah satunya Sulasmi, yang mulai menyortir sejak dekade 1970-an dan kini berusia 64 tahun.
Kenapa Nyaris Selalu Perempuan
Alasan yang paling sering disebut bukan soal tenaga, melainkan kesabaran. Sayuti, pengawas PTPN II yang mengelola gudang pemeraman tembakau Deli sejak 1890, mengatakan kepada ANTARA News Sumatera Utara: "Tembakau memiliki banyak warna yang harus dipisah-pisahkan, hanya perempuan yang dengan sabar memisahkannya." Pekerja perempuan di gudang itu bahkan diwajibkan mengenakan sarung batik supaya gerakan tangan dan badan mereka lebih leluasa saat membolak-balik tumpukan daun tembakau.
Pembagian kerja berdasarkan gender ini juga berlaku di luar gudang sortir. Penelitian Heni Kurniawati (2017) di Dusun Mento Bawang, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, mencatat pembagian tugas pasca-panen yang tegas: buruh laki-laki mengerjakan ngrajang atau merajang daun tembakau, sementara nganjang -- menata irisan daun di atas rigen atau papan bambu untuk dijemur -- dikerjakan perempuan. Keahlian itu sering diwariskan dari orang tua ke anak perempuan, semacam modal keluarga yang dibawa turun-temurun.
Upah Harian, Musim yang Pendek
Sebagai pekerjaan musiman, gudang tembakau membayar dengan skema yang bervariasi antardaerah. Di sebuah gudang tembakau Lombok, Komunitas Kretek mencatat pada 2015 upah buruh sortir mencapai Rp51.500 per hari untuk jam kerja pukul 07.30 hingga 13.30 -- dua kali lipat dari upah pekerjaan musiman lain yang hanya Rp25.000 sehari. Gudang itu mempekerjakan sekitar 200 hingga 300 orang, berstatus buruh harian lepas selama tiga sampai empat bulan musim panen, tanpa jaminan pekerjaan setelah musim berakhir.
Di Temanggung, upah buruh nganjang malah dibayar per malam kerja. Penelitian Heni Kurniawati mencatat perempuan di Dusun Mento Bawang bisa mendapat Rp40.000 untuk semalam nganjang, dua kali lipat dari upah buruh tani harian sebesar Rp20.000. Pekerjaan itu sengaja dilakukan malam hingga pagi hari, supaya perempuan tetap bisa menjalankan pekerjaan domestik dan buruh tani di siang harinya -- musim tembakau hanya datang dua sampai tiga bulan setahun, tapi pendapatan tambahan itu penting bagi ekonomi rumah tangga.
Sentra yang Menyerap, Risiko yang Jarang Dibicarakan
Riset Bank Dunia yang dikutip Suara Muhammadiyah menempatkan Kudus, Temanggung, dan Kediri sebagai tiga daerah dengan serapan tenaga kerja industri tembakau tertinggi di Indonesia -- masing-masing 30 persen, 27,6 persen, dan 26 persen dari total lapangan kerja di daerah itu, dengan mayoritas pekerja perempuan muda. Di luar Jawa, Deli dan sentra cerutu Jember-Besuki menyusul sebagai kantong-kantong pekerjaan sortir yang serupa.
Paparan harian terhadap daun tembakau kering bukan tanpa risiko. Artikel yang sama mencatat buruh perempuan berpotensi terkena toksin nikotin karena intensif bersentuhan dengan tembakau setiap hari, serta rentan mengalami gejala kurang darah akibat tuntutan kerja yang tinggi -- risiko kesehatan yang jarang dibicarakan dibanding sorotan pada upah dan tekanan produksi semata.