Lewati ke konten utama
← Kembali ke Jurnal Tembakau
Petani & Ekonomi

Di Atas Ladang Minyak Bojonegoro, Nasib Tembakau Ditentukan Hujan

Kabupaten yang menyumbang minyak dari Blok Cepu ini ternyata juga menanam tembakau di 26 kecamatan -- tapi pada 2025 lebih dari dua ribu hektare ladangnya lenyap bukan karena sumur bor, melainkan karena hujan yang datang di musim yang salah.

6 menit baca

No. 028 · Dipublikasikan 4 Sep 2026

Kabupaten minyak yang diam-diam menanam tembakau

Nama Bojonegoro hampir selalu muncul berdampingan dengan Blok Cepu dan lapangan Banyu Urip -- kabupaten di tepi Bengawan Solo ini terlanjur dikenal sebagai daerah minyak. Tapi di luar sumur bor dan pipa, ada komoditas lain yang menghidupi puluhan ribu keluarga dan menuntut perhatian jauh lebih rewel: tembakau.

Sebarannya tidak main-main. Tembakau di Bojonegoro ditanam di 26 kecamatan, dengan luas tanam mencapai 15.965,94 hektare pada 2024. Skala seluas itu menempatkan Bojonegoro sebagai salah satu sentra tembakau terpenting di Jawa Timur -- posisi yang jarang disebut orang ketika membicarakan kabupaten ini.

Dua jenis dalam satu kabupaten: Virginia dan Jawa

Yang membuat Bojonegoro menarik adalah petaninya tidak bergantung pada satu jenis daun saja. Di sini ditanam tembakau Virginia dengan varietas T45 dan K326, berdampingan dengan tembakau Jawa varietas Grompol Jatim. Dua karakter daun yang berbeda tumbuh di kabupaten yang sama, masing-masing punya pembeli dan kelas harganya sendiri.

Perbandingan volumenya timpang dan menunjukkan siapa yang sebenarnya jadi tulang punggung. Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian mencatat tembakau Virginia menghasilkan 17.205,92 ton rajangan dari 101.299,57 ton daun basah, sementara tembakau Jawa menghasilkan 5.297,58 ton rajangan dari 31.198,57 ton daun basah. Berbeda dari sentra Virginia di Lombok yang mengirim hasil panennya sebagai krosok, Bojonegoro menjual tembakaunya dalam bentuk rajangan kering.

Kemarau basah 2025 dan dua ribu hektare yang menguap

Musim tanam 2025 berjalan buruk. Target luas tanam yang dipatok 15.958 hektare tidak tercapai -- realisasinya hanya 14.164,10 hektare, dan dari angka itu yang benar-benar bisa dipanen tinggal 12.041,10 hektare. Penyebabnya bukan harga atau hama, melainkan hujan yang terus turun di bulan-bulan yang seharusnya kering.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bojonegoro, Zainal Fanani, menyebut angka kehilangannya secara terbuka. "Kami kehilangan 2.123 hektare akibat hujan ekstrem. Ini menunjukkan petani kita butuh dukungan nyata," katanya. Bambang Wahyudi, Pengawas Mutu Hasil Pertanian di dinas yang sama, menggambarkan situasi di lapangan dengan lebih blak-blakan: "Banyak tembakau milik petani mati karena kerap diguyur hujan." Persoalannya berlapis -- setelah tanaman mati, banyak petani tidak menanam ulang karena modalnya sudah habis di tanam pertama.

Harga yang jalan di tempat selama dua musim

Rentang harga di tingkat petani Bojonegoro sangat lebar dan sangat bergantung mutu. Pada musim 2025, tembakau rajangan kering dihargai mulai Rp23.000 sampai Rp55.000 per kilogram, sementara daun basah hanya laku Rp1.500 hingga Rp3.500 per kilogram. Jarak antara daun kelas bawah dan kelas atas nyaris dua setengah kali lipat -- dan cuaca buruk otomatis mendorong panen ke kelas bawah.

Masuk musim 2026, harga rajangan kering bertengger di kisaran Rp40.000 per kilogram -- angka yang sama dengan tahun sebelumnya, meski kualitas daun tahun ini dinilai lebih bagus dan satu pohon bisa dipanen sampai 12 kali petik. Bagi petani, hitungannya sederhana. Harjo, petani di Desa Cengkir, Kecamatan Kepohbaru, menyebut panen 2025 memberinya sekitar Rp20 juta, dan ia berharap musim ini bisa lebih besar.

Rebutan serapan gudang: Bojonegoro versus Madura

Punya kebun luas ternyata belum menjamin daun terserap. Di Bojonegoro berdiri gudang milik pabrikan besar seperti Sampoerna dan Gudang Garam, tapi gudang-gudang itu selama ini juga membeli dari Madura. Bupati Bojonegoro Setyo Wahono memilih mengambil peran sebagai penawar langsung. "Untuk membantu mendorong harga semakin baik sesuai harapan petani, kami telah melakukan komunikasi dengan sejumlah gudang tembakau," ujarnya, dengan logika bahwa makin banyak tembakau lokal yang diserap, makin kuat pula posisi harga petani Bojonegoro.

Di luar lobi ke pabrikan, pemerintah kabupaten menyalurkan bantuan yang dibiayai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau. Pada 2025, sebanyak 17 mesin perajang dibagikan kepada delapan kelompok tani, ditambah 20 unit lagi serta 32 traktor tangan dan 5 cultivator dari dukungan provinsi. Bantuan sarana produksi juga mengalir berupa 526 ton pupuk NPK dan 67,5 ton KNO untuk lahan seluas 2.630 hektare, disertai pendampingan penerapan Good Agricultural Practices. Syaratnya tegas: bantuan hanya untuk kelompok tani berbadan hukum, bukan perorangan, dan tidak boleh dipindahtangankan.

Mesin perajang memang memangkas ongkos pascapanen dan menjaga nilai tambah tetap tinggal di tangan petani -- tapi tidak ada mesin yang bisa menghentikan hujan di musim kemarau, dan tidak ada hibah yang bisa memaksa gudang membeli lebih banyak. Di kabupaten yang APBD-nya gemuk oleh minyak, nasib tembakau Bojonegoro tetap ditentukan oleh dua hal di luar kendali petani: cuaca, dan keputusan pembelian yang diambil jauh dari ladang.