Lewati ke konten utama
← Kembali ke Jurnal Tembakau
Petani & Ekonomi

Rahasia Kuning Keemasan Tembakau Lombok: Bukan Matahari, tapi Oven

Saat tembakau Temanggung dan Madura mengandalkan terik matahari, petani Virginia di Lombok Timur mengeringkan daunnya di dalam oven berbilik panas selama puluhan jam -- proses yang menghasilkan warna kuning keemasan khas, tapi tak lantas membuat posisi tawar mereka ikut menguat saat harga jatuh.

6 menit baca

No. 018 · Dipublikasikan 12 Agu 2026

Dari eksperimen perusahaan kolonial ke ladang Lombok Timur

Pengembangan tembakau Virginia di Lombok dirintis sejak 1968 oleh British American Tobacco (BAT), sebelum akhirnya diperluas secara serius pada 1978 untuk memenuhi kebutuhan pabrik rokok putih. Belakangan, perusahaan lain seperti PT Sadhana Arif Nusa ikut masuk dan mengembangkan budi daya tembakau jenis ini di Pulau Lombok, menjadikannya bukan lagi sekadar tanaman uji coba.

Kualitas tembakau Virginia hasil Lombok bahkan sempat mendapat pengakuan internasional -- Lembaga Tembakau Internasional yang berpusat di Jerman pernah menilainya sebagai tembakau terbaik ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan Brasil.

Bukan dijemur, tapi "dimasak" pelan-pelan dalam oven

Nama flue-curing sendiri merujuk pada flue, yakni pipa yang mengalirkan udara panas ke dalam bilik tempat daun tembakau digantung -- bukan api yang menyentuh daun secara langsung. Warga di Lombok Timur menyebut bilik pengering berbahan bata atau logam ini sebagai oven tembakau, tempat daun basah hasil panen dikeringkan bertahap selama berhari-hari, jauh dari terik matahari langsung seperti yang dipakai petani Temanggung atau Madura.

Tahap awal proses ini disebut penguningan, berlangsung sekitar 24 hingga 60 jam, saat kadar air daun diturunkan pelan-pelan sambil warnanya berubah dari hijau menjadi kuning. Setelah itu suhu di dalam oven dinaikkan bertahap sampai kelembapan pada batang atau gagang daun benar-benar habis. Hasil akhirnya adalah daun berwarna kuning keemasan cerah -- ciri khas yang membuat tembakau Virginia dijuluki brightleaf, berbeda jauh dari warna cokelat kehitaman tembakau yang dijemur di bawah sinar matahari.

NTB, lumbung tembakau Virginia yang nyaris tak punya pabrik sendiri

Potensi lahan tanam tembakau Virginia di Nusa Tenggara Barat mencapai 58.516 hektare, tersebar di Lombok Barat (10.098 hektare), Lombok Tengah (19.263 hektare), dan Lombok Timur sebagai yang terluas dengan 29.154 hektare. Dari lahan itu, potensi produksinya mencapai 48.000 ton per tahun -- setara 95 persen dari total kebutuhan tembakau Virginia nasional yang sebesar 50.000 ton per tahun -- dengan produktivitas yang naik ke kisaran 1,9 sampai 2 ton per hektare dalam satu musim tanam-panen yang berlangsung sekitar lima bulan dan melibatkan puluhan ribu petani, dengan angka sekitar 23.000 petani pada satu musim produksi. Secara keseluruhan, NTB disebut memasok hingga 80 persen kebutuhan tembakau untuk industri rokok nasional.

Ironisnya, dengan skala produksi sebesar itu, Nusa Tenggara Barat sampai sekarang belum punya pabrik rokok sendiri. Alasannya sederhana secara bisnis: komponen rokok selain tembakau -- seperti kertas dan filter -- jauh lebih mudah didapat di Pulau Jawa, sehingga pabrikan besar memilih tetap berproduksi di sana. Hasil panen Lombok pun dikirim keluar daerah dalam bentuk daun kering (krosok) memakai kemasan berpengatur suhu khusus, sebagai bahan baku yang diolah menjadi rokok di tempat lain.

Harga yang naik turun mengikuti cuaca dan cukai

Harga beli tembakau Virginia di tingkat petani tercatat berfluktuasi cukup tajam dari tahun ke tahun: sekitar Rp45.000 per kilogram pada 2020, turun ke sekitar Rp41.000 per kilogram pada 2021 akibat cuaca buruk yang membuat kualitas daun tak sesuai standar perusahaan, lalu justru melonjak ke sekitar Rp70.000 per kilogram pada 2023 -- harga tertinggi yang tercatat -- setelah hujan tak terduga di musim kemarau memicu gagal panen massal dan memperketat pasokan. Di sisi lain, kenaikan cukai rokok membuat penyerapan oleh pabrikan resmi berkurang, sementara meningkatnya produksi rokok ilegal justru menciptakan permintaan tersendiri terhadap tembakau dengan harga yang lebih kompetitif.

Petani mitra dan petani swadaya: siapa yang lebih terlindungi

Di tengah fluktuasi itu, posisi petani ternyata tidak seragam. Petani swadaya -- yang menanam tanpa kontrak dengan pabrikan mana pun -- adalah pihak paling rentan terhadap gejolak harga maupun standar kualitas yang berubah-ubah. Sebaliknya, petani yang bermitra lewat kontrak dengan perusahaan rokok relatif lebih terlindungi karena tetap menerima harga sesuai kesepakatan yang sudah disepakati sejak awal musim tanam, terlepas dari gejolak pasar yang terjadi kemudian. Kondisi ini membuat skema kemitraan dengan pabrik menjadi penentu penting nasib petani tembakau Virginia Lombok, jauh sebelum daun kuning keemasan mereka sempat masuk ke dalam oven pengering.

Sumber & referensi

  1. Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur — "Sejarah Tembakau Lombok"
  2. Komunitas Kretek — "Dua Teknik Pengeringan Tembakau Berbasis Curing"
  3. ANTARA News — "NTB Jajaki Peluang Pendirian Pabrik Rokok"
  4. Kabar Nusantara — "Fluktuasi Harga Tembakau Virginia di NTB, Ada Apa?"

Artikel ini disusun ulang oleh redaksi Jurnal Tembakau berdasarkan informasi dari sumber-sumber di atas, sesuai Kode Etik Jurnalistik Pasal 3 (menguji informasi) dan Pasal 6 (tidak menjiplak).