Serikat Buruh Rokok Berusia 33 Tahun Melawan Gempuran Mesin
FSP RTMM-SPSI lahir dari penggabungan dua serikat buruh tembakau dan makanan-minuman pada 1993, kini menaungi ratusan ribu pekerja di belasan provinsi -- tapi kekuatan tawar yang dibangun selama tiga dekade itu diuji oleh mesin yang pelan-pelan mengganti tangan buruh.
Artikel Lainnya
Menampilkan 17 dari 17 artikel
Rokok Mild Dulu Ditolak Pasar, Kini Nyaris Kuasai Rak Warung
Kategori kretek mild lahir dari kegagalan di tahun-tahun pertamanya, sebelum pergantian strategi pemasaran pada pertengahan 1990-an membuat penjualannya melonjak dan memancing hampir semua pabrikan besar meluncurkan varian serupa. Klaim "lebih ringan" yang menyertainya pun sejak awal menuai kritik dari kalangan kesehatan, sementara aturan pelabelan kadar tar-nikotin baru datang dua dekade kemudian.
Iklan Rokok Kretek Dulu Merajai Layar Kaca, Kini Terkurung Tengah Malam
Selama puluhan tahun, larangan menampilkan wujud rokok justru melahirkan iklan-iklan kretek yang penuh humor dan sindiran sosial, dari Om Jin di iklan Djarum 76 sampai berbagai kampanye televisi era 1990-2000-an. Kini, lewat PP Nomor 28 Tahun 2024, ruang gerak iklan rokok makin sempit -- dibatasi jam tayang tengah malam, dilarang total di media sosial, dan tak boleh muncul dalam radius 500 meter dari sekolah.
Kebun Tembakau Disulap Jadi Ladang Perang, Buruhnya Jadi Romusha
Di bawah pendudukan militer Jepang 1942-1945, perkebunan tembakau di Sumatra dan Jawa kehilangan statusnya sebagai komoditas ekspor unggulan dan sebagian lahannya dialihkan jadi ladang pangan, sementara pabrik-pabrik rokok disulap jadi alat propaganda perang. Di baliknya, sistem kerja paksa romusha mengerahkan jutaan rakyat dengan kondisi yang baru terungkap belakangan.
Pita Kecil di Bungkus Rokok yang Menyetor Ratusan Triliun ke Negara
Setiap bungkus rokok legal di Indonesia disegel selembar pita kecil yang jarang dibaca isinya. Pita itu adalah bukti pelunasan cukai -- sistem yang jejaknya bisa dilacak sampai ordonansi Hindia Belanda tahun 1932, lalu diwarisi Republik lewat rangkaian undang-undang. Hari ini, setoran dari benda kecil itu diukur dalam ratusan triliun rupiah.
Museum Kretek Kudus dan Nasib Sebuah Industri yang Diawetkan
Museum Kretek di Kudus diresmikan pada 3 Oktober 1986 di atas lahan 2,5 hektare, hasil prakarsa Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Roestam dan pembiayaan Persatuan Pengusaha Rokok Kudus. Di dalamnya tersimpan lebih dari seribu koleksi -- dari alat rajang tembakau sampai dokumentasi Nitisemito. Kini museum itu berbagi halaman dengan kolam renang dan wahana ember tumpah, bukti bahwa merawat sejarah kretek butuh lebih dari sekadar vitrin.
Keluar dari Pabrik Pamannya, Ia Bawa 50 Buruh Mendirikan Gudang Garam
Pada 1956 Tjoa Ing-Hwie berhenti dari pabrik rokok Cap 93 milik pamannya di Kediri setelah berselisih, lalu pergi membawa sekitar 50 karyawan. Merek pertamanya gagal di pasar. Baru pada 26 Juni 1958 ia mendirikan Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam -- nama yang konon datang dari mimpi -- dan dalam delapan tahun jadi produsen kretek terbesar di Indonesia.
Bocah Yatim Penjual Makanan di Kereta yang Menciptakan Angka 234
Datang dari Fujian pada usia sekitar lima tahun, Liem Seeng Tee kehilangan ayahnya enam bulan setelah menginjak Surabaya dan tumbuh sebagai penjual makanan di gerbong kereta. Dari sana ia membangun Handel Maatschappij Sampoerna pada 1913 dan melahirkan Dji Sam Soe -- Hokkian untuk dua-tiga-empat, angka yang jika dijumlahkan menjadi sembilan. Penjara Jepang sempat memutus semuanya, tapi mereknya bertahan sampai dibeli Philip Morris pada 2005.
Direbut Buruh, Kebun Tembakau Deli Berakhir di Tangan Tentara
Kekalahan diplomasi Indonesia soal Irian Barat di forum PBB akhir November 1957 memicu gelombang aksi buruh merebut perusahaan-perusahaan Belanda di seluruh negeri, termasuk kebun tembakau Deli yang dulu jadi simbol kekayaan kolonial di Sumatra Timur. Tapi kemenangan buruh itu berumur pendek -- hanya sepuluh hari setelah mogok pertama pecah, pemerintah menyerahkan kendali perkebunan-perkebunan itu ke tangan militer, bukan ke buruh yang merebutnya.
Cengkeh Maluku: Rempah Termahal Dunia yang Berakhir jadi Recehan Kretek
Satu kilogram cengkeh Maluku pernah setara dengan tujuh gram emas di pasar Eropa, memicu perebutan dagang yang berujung darah -- dari pembunuhan Sultan Khairun hingga pelayaran hongi VOC yang memusnahkan ribuan pohon cengkeh milik rakyat Hoamoal. Empat abad kemudian, rempah yang sama justru jadi bahan racikan paling biasa dalam setiap batang kretek Indonesia.
Cerutu Tangan yang Bertahan sejak Zaman NV Negresco
Pabrik cerutu Taru Martani di Yogyakarta berdiri sejak 1918 dengan nama awal NV Negresco, lalu berpindah tangan lewat pendudukan Jepang sebelum akhirnya diberi nama oleh Sultan Hamengku Buwono IX dan kini jadi BUMD milik Pemerintah Provinsi DIY. Cerutunya masih dilinting tangan dan pernah mengekspor 1,2 juta batang sebulan hanya ke Amerika Serikat -- sebelum kampanye antirokok global menggerus pasar itu drastis.
Mitos Haji Djamhari dan Raja Kretek Sesungguhnya dari Kudus
Cerita Haji Djamhari yang mencampur cengkeh dan tembakau untuk meredakan sesak napasnya pada 1880 sudah lama jadi legenda asal-usul rokok kretek. Tapi sejarawan meragukan bukti keberadaannya -- catatan Belanda justru menyebut rokok cengkeh sudah ada di Kudus sebelum era itu. Sosok yang benar-benar mengindustrialisasi kretek adalah Nitisemito, pengusaha pribumi yang membangun pabrik beromzet besar lewat promosi pesawat udara, sebelum akhirnya bangkrut.
Laporan yang Dikubur 80 Tahun di Balik Kejayaan Tembakau Deli
Di ujung abad ke-19, daun tembakau dari Deli, Sumatra Timur, jadi pembungkus cerutu paling dicari di Eropa -- penjualannya menembus miliaran gulden dan membuat pengusaha perkebunan kaya raya. Tapi di balik kejayaan itu, sistem kerja paksa poenale sanctie menjerat kuli kontraknya, dan laporan yang membongkar kekejamannya baru terbuka ke publik 83 tahun kemudian.
Sejarah Tembakau Indonesia: dari Kapal Eropa ke Bara Kretek
Dari daun asing yang dibawa pedagang Eropa, tembakau tumbuh menjadi tanaman wajib era kolonial, primadona ekspor dari Deli dan Jember, hingga akar industri kretek yang kini identik dengan Indonesia. Begini jejak empat abad perjalanannya.
Cerutu Jember: "emas hijau" yang disebut terbaik kedua di dunia setelah Kuba, tapi asing di negeri sendiri
Dari ladang-ladang di Jember, Jawa Timur, lahir tembakau pembungkus cerutu yang oleh para pencicip dunia disebut terbaik kedua setelah Kuba -- pernah dilelang hingga ke Bremen, Jerman, namun sampai hari ini lebih dikenal turis mancanegara ketimbang kebanyakan orang Indonesia sendiri.
Tembakau Deli: kisah emas hijau yang mengangkat nama Sumatra
Satu lembar daun dari tanah Deli pernah membuat Eropa menoleh ke Sumatra Timur. Kisah Jacob Nienhuys dan kejayaan tembakau Deli sebagai pembungkus cerutu termewah dunia โ dan bagaimana warisan itu masih hidup hari ini.
Tingwe: dari kalangan jelata ke tradisi yang digemari lagi
Sebelum pabrik rokok besar berdiri, masyarakat Nusantara sudah lebih dulu akrab dengan tradisi melinting sendiri. Dari klobot jagung hingga kertas papir, tingwe bertahan melewati satu abad dan kini menemukan penggemar baru di kalangan urban.
Dari racikan obat Haji Jamhari ke klobot: awal mula rokok linting Nusantara
Konon bermula dari niat sederhana: meredakan sakit dada. Racikan cengkeh dan tembakau milik Haji Jamhari di Kudus, akhir abad ke-19, tanpa disangka menjadi cikal bakal budaya rokok linting khas Nusantara.