Serikat Buruh Rokok Berusia 33 Tahun Melawan Gempuran Mesin
FSP RTMM-SPSI lahir dari penggabungan dua serikat buruh tembakau dan makanan-minuman pada 1993, kini menaungi ratusan ribu pekerja di belasan provinsi -- tapi kekuatan tawar yang dibangun selama tiga dekade itu diuji oleh mesin yang pelan-pelan mengganti tangan buruh.
Artikel Lainnya
Menampilkan 27 dari 39 artikel
Rokok Mild Dulu Ditolak Pasar, Kini Nyaris Kuasai Rak Warung
Kategori kretek mild lahir dari kegagalan di tahun-tahun pertamanya, sebelum pergantian strategi pemasaran pada pertengahan 1990-an membuat penjualannya melonjak dan memancing hampir semua pabrikan besar meluncurkan varian serupa. Klaim "lebih ringan" yang menyertainya pun sejak awal menuai kritik dari kalangan kesehatan, sementara aturan pelabelan kadar tar-nikotin baru datang dua dekade kemudian.
Batik Mbako, Saat Daun Tembakau Naik Pangkat Jadi Seragam Dinas
Batik Mbako lahir dari keresahan seorang pendatang bernama Iman Nugroho terhadap nasib petani tembakau Temanggung, lalu berkembang jadi puluhan motif bertema daun, bunga, dan rajangan tembakau. Sejak Peraturan Bupati Nomor 26 Tahun 2019, motif ini resmi jadi bagian pakaian dinas PNS -- meski perajinnya masih bergulat dengan motif yang kerap dianggap kosong dan minimnya regenerasi perajin muda.
Eblek, Anyaman Bambu Rp30 Ribu di Balik Bukit Emas Temanggung
Eblek atau rigen -- anyaman bambu persegi panjang tempat rajangan tembakau dijemur -- adalah wajah paling ikonik dari musim panen tembakau Temanggung, saat bukit dan tegalan berubah keemasan dan jadi incaran wisatawan. Di baliknya, ada perajin di Dusun Letih yang masih menganyam bambu satu per satu meski material modern makin gampang didapat.
Rembang Dikenal karena Garam, Diam-Diam Jadi Raja Tembakau
Rembang selama ini identik dengan garam dan wisata pusaka Lasem, padahal tegalan keringnya menyimpan sentra tembakau rajangan yang menyebar di belasan kecamatan. Musim tanam 2026 saja luasnya mencapai 7.440 hektare, tapi cuaca ekstrem dua tahun terakhir membuktikan betapa rapuhnya angka itu.
Ekspor Tembakau RI Mendunia, Krosoknya Malah Banyak Diimpor
Pada 2024, ekspor produk tembakau Indonesia tembus US$1,7 miliar dan menempatkan negeri ini di posisi eksportir keenam dunia, dengan cerutu premium melenggang sampai ke Jerman dan Jepang. Namun di balik angka itu, volume tembakau mentah yang diimpor justru jauh melampaui krosok yang diekspor.
Rokok Ilegal Menang Saat Cukai Naik, Petani Ikut Kalah
Survei dan laporan penindakan terbaru menunjukkan peredaran rokok ilegal di Indonesia terus membesar, dengan potensi kerugian negara yang disebut tembus puluhan triliun rupiah dalam setahun. Di balik angka itu ada rantai yang lebih panjang -- dari sentra produksi di Jawa sampai petani dan pabrik rokok legal yang pasarnya ikut tergerus.
Perempuan Penyortir Daun Tembakau, Dibayar Ketelitian Rp51 Ribu Sehari
Di gudang-gudang tembakau dari Sumatera Utara sampai Jawa Timur dan Lombok, hampir seluruh proses memilah daun kering berdasarkan warna, ukuran, dan cacat dikerjakan tangan perempuan. Upahnya dibayar harian atau per malam kerja, jauh sebelum daun itu sampai ke tangan pelinting rokok.
Tembakau Mole Garut: Diekspor ke Malaysia, Pabriknya di Kudus
Garut memang lebih dikenal lewat dodol dan domba, tapi kabupaten ini juga penghasil tembakau mole yang dirajang setipis rambut dan dijemur di atas sasag bambu. Hasilnya laris sampai ke pabrik rokok di Kudus dan pasar Malaysia, namun petaninya sendiri jarang menikmati untung besar dari rantai produksi itu.
Iklan Rokok Kretek Dulu Merajai Layar Kaca, Kini Terkurung Tengah Malam
Selama puluhan tahun, larangan menampilkan wujud rokok justru melahirkan iklan-iklan kretek yang penuh humor dan sindiran sosial, dari Om Jin di iklan Djarum 76 sampai berbagai kampanye televisi era 1990-2000-an. Kini, lewat PP Nomor 28 Tahun 2024, ruang gerak iklan rokok makin sempit -- dibatasi jam tayang tengah malam, dilarang total di media sosial, dan tak boleh muncul dalam radius 500 meter dari sekolah.
Kebun Tembakau Disulap Jadi Ladang Perang, Buruhnya Jadi Romusha
Di bawah pendudukan militer Jepang 1942-1945, perkebunan tembakau di Sumatra dan Jawa kehilangan statusnya sebagai komoditas ekspor unggulan dan sebagian lahannya dialihkan jadi ladang pangan, sementara pabrik-pabrik rokok disulap jadi alat propaganda perang. Di baliknya, sistem kerja paksa romusha mengerahkan jutaan rakyat dengan kondisi yang baru terungkap belakangan.
Nyethe, Kerajinan Melukis Batang Rokok yang Sengaja Dibuat untuk Musnah
Cethe adalah kata Jawa untuk endapan ampas kopi, dan nyethe adalah kegiatan mengoleskannya ke batang rokok sampai membentuk motif. Tradisi yang tumbuh di kalangan petani Tulungagung sejak 1980-an ini pernah memecahkan rekor MURI dengan 2.710 peserta, dan kini merambat ke media cangkir porselen.
Di Atas Ladang Minyak Bojonegoro, Nasib Tembakau Ditentukan Hujan
Bojonegoro lebih dikenal lewat minyak bumi Blok Cepu, padahal kabupaten ini menanam tembakau Virginia dan Jawa di 26 kecamatan sekaligus. Musim 2025 mencatat lebih dari dua ribu hektare ladang hilang akibat kemarau basah, sementara harga rajangan kering di tingkat petani nyaris tak bergerak selama dua musim berturut-turut.
Cukai Rokok Kembali ke Daerah, Tapi Berapa yang Sampai ke Petani?
Setiap batang rokok yang terjual menyumbang cukai ke kas negara, dan sebagian kecil dikembalikan ke daerah penghasil lewat DBHCHT. Tahun anggaran 2026 nilainya Rp3,28 triliun, dengan Jawa Timur menyerap lebih dari separuhnya. Masalahnya, aturan penggunaan hanya menyisakan satu irisan tipis untuk urusan bahan baku -- dan riset lapangan menemukan program yang paling relevan bagi petani justru yang paling seret terserap.
Panen Raya Tiba, Harga Tembakau Justru Sering Terjun
Puncak panen tembakau jatuh pada Agustus-September, tapi melimpahnya daun jarang berbanding lurus dengan pendapatan petani. Catatan musim 2026 dari Temanggung, Bojonegoro, dan Pamekasan memperlihatkan tiga penyebabnya: daun yang tidak tahan disimpan, patokan harga yang terlambat ditetapkan, dan kuota serapan gudang yang menentukan lebih dulu.
Pita Kecil di Bungkus Rokok yang Menyetor Ratusan Triliun ke Negara
Setiap bungkus rokok legal di Indonesia disegel selembar pita kecil yang jarang dibaca isinya. Pita itu adalah bukti pelunasan cukai -- sistem yang jejaknya bisa dilacak sampai ordonansi Hindia Belanda tahun 1932, lalu diwarisi Republik lewat rangkaian undang-undang. Hari ini, setoran dari benda kecil itu diukur dalam ratusan triliun rupiah.
Museum Kretek Kudus dan Nasib Sebuah Industri yang Diawetkan
Museum Kretek di Kudus diresmikan pada 3 Oktober 1986 di atas lahan 2,5 hektare, hasil prakarsa Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Roestam dan pembiayaan Persatuan Pengusaha Rokok Kudus. Di dalamnya tersimpan lebih dari seribu koleksi -- dari alat rajang tembakau sampai dokumentasi Nitisemito. Kini museum itu berbagi halaman dengan kolam renang dan wahana ember tumpah, bukti bahwa merawat sejarah kretek butuh lebih dari sekadar vitrin.
Keluar dari Pabrik Pamannya, Ia Bawa 50 Buruh Mendirikan Gudang Garam
Pada 1956 Tjoa Ing-Hwie berhenti dari pabrik rokok Cap 93 milik pamannya di Kediri setelah berselisih, lalu pergi membawa sekitar 50 karyawan. Merek pertamanya gagal di pasar. Baru pada 26 Juni 1958 ia mendirikan Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam -- nama yang konon datang dari mimpi -- dan dalam delapan tahun jadi produsen kretek terbesar di Indonesia.
Bocah Yatim Penjual Makanan di Kereta yang Menciptakan Angka 234
Datang dari Fujian pada usia sekitar lima tahun, Liem Seeng Tee kehilangan ayahnya enam bulan setelah menginjak Surabaya dan tumbuh sebagai penjual makanan di gerbong kereta. Dari sana ia membangun Handel Maatschappij Sampoerna pada 1913 dan melahirkan Dji Sam Soe -- Hokkian untuk dua-tiga-empat, angka yang jika dijumlahkan menjadi sembilan. Penjara Jepang sempat memutus semuanya, tapi mereknya bertahan sampai dibeli Philip Morris pada 2005.
Direbut Buruh, Kebun Tembakau Deli Berakhir di Tangan Tentara
Kekalahan diplomasi Indonesia soal Irian Barat di forum PBB akhir November 1957 memicu gelombang aksi buruh merebut perusahaan-perusahaan Belanda di seluruh negeri, termasuk kebun tembakau Deli yang dulu jadi simbol kekayaan kolonial di Sumatra Timur. Tapi kemenangan buruh itu berumur pendek -- hanya sepuluh hari setelah mogok pertama pecah, pemerintah menyerahkan kendali perkebunan-perkebunan itu ke tangan militer, bukan ke buruh yang merebutnya.
Klobot, Bungkus Rokok Kulit Jagung yang Tak Gentar Air Laut
Sebelum kertas rokok jadi standar, ada rokok klobot -- tembakau bercampur cengkeh yang dibungkus kulit jagung kering, bukan kertas pabrikan. Dari Desa Bancangan di Ponorogo sampai Pabrik Cengkir Gading di Nganjuk, kerajinan membungkus tembakau dengan klobot ini masih berjalan untuk melayani nelayan dan petani gunung yang setia.
Lolos dari Tanam Paksa, Sawah Keraton Ini Malah Disewakan ke Belanda
Berbeda dari tembakau gunung Temanggung yang tumbuh di lereng tegalan, tembakau Vorstenlanden di Klaten, Boyolali, dan Sragen ditanam di sawah bekas padi begitu musim kemarau tiba. Wilayah ini justru lolos dari kebijakan tanam paksa karena statusnya sebagai tanah kerajaan semi-otonom -- tapi tetap disewakan pengusaha Belanda demi daun pembungkus cerutu kelas atas.
Rahasia Kuning Keemasan Tembakau Lombok: Bukan Matahari, tapi Oven
Berbeda dari tembakau Temanggung atau Madura yang dijemur di bawah matahari, tembakau Virginia di Lombok Timur diproses lewat flue-curing -- dikeringkan dalam oven berbilik panas selama puluhan jam hingga daunnya berubah kuning keemasan. Teknik ini menjadikan Nusa Tenggara Barat pemasok utama bahan baku rokok kretek mesin secara nasional, tapi harga yang diterima petaninya tetap naik turun mengikuti cuaca dan kebijakan cukai.
Cengkeh Maluku: Rempah Termahal Dunia yang Berakhir jadi Recehan Kretek
Satu kilogram cengkeh Maluku pernah setara dengan tujuh gram emas di pasar Eropa, memicu perebutan dagang yang berujung darah -- dari pembunuhan Sultan Khairun hingga pelayaran hongi VOC yang memusnahkan ribuan pohon cengkeh milik rakyat Hoamoal. Empat abad kemudian, rempah yang sama justru jadi bahan racikan paling biasa dalam setiap batang kretek Indonesia.
Cerutu Tangan yang Bertahan sejak Zaman NV Negresco
Pabrik cerutu Taru Martani di Yogyakarta berdiri sejak 1918 dengan nama awal NV Negresco, lalu berpindah tangan lewat pendudukan Jepang sebelum akhirnya diberi nama oleh Sultan Hamengku Buwono IX dan kini jadi BUMD milik Pemerintah Provinsi DIY. Cerutunya masih dilinting tangan dan pernah mengekspor 1,2 juta batang sebulan hanya ke Amerika Serikat -- sebelum kampanye antirokok global menggerus pasar itu drastis.
Sarinah dan Kecepatan Tangan Melinting 7.000 Rokok Sehari
Di sentra kretek Kudus, melinting dan membatil rokok kretek tangan adalah kerajinan yang mengandalkan kecepatan dan ketelitian jari -- pekerja tercepat bisa menyelesaikan 7.000 batang dalam waktu kurang dari tujuh jam. Upahnya dihitung per seribu batang, dan pada 2026 nilainya naik jadi Rp50.300 -- tapi keahlian ini pelan-pelan tergeser oleh mesin pelinting modern.
Mitos Haji Djamhari dan Raja Kretek Sesungguhnya dari Kudus
Cerita Haji Djamhari yang mencampur cengkeh dan tembakau untuk meredakan sesak napasnya pada 1880 sudah lama jadi legenda asal-usul rokok kretek. Tapi sejarawan meragukan bukti keberadaannya -- catatan Belanda justru menyebut rokok cengkeh sudah ada di Kudus sebelum era itu. Sosok yang benar-benar mengindustrialisasi kretek adalah Nitisemito, pengusaha pribumi yang membangun pabrik beromzet besar lewat promosi pesawat udara, sebelum akhirnya bangkrut.
Dulu Dijuluki Daun Emas, Kini Petani Madura Terjepit Harga
Tembakau Madura pernah dijuluki "daun emas" karena harganya konon setara emas segram per kilogram. Kini harga beli pabrikan cuma berkisar Rp25 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram, ditentukan sepihak lewat rantai panjang perantara bernama bandul dan cukong -- membuat petani kerap terpaksa menjual meski harganya di bawah biaya produksi mereka sendiri.